Archive for June, 2007

Dogma Dogmatis

Tuesday, June 19th, 2007

Renhard Kasali, Kompas, beberapa hari yang lalu, bicara soal manusia cerdas. Harus terbuka, tidak reaktif, dan tidak dogmatis. Itu manusia cerdas ala Mr. Kasali.

Manusia yang jago berteori tapi tertutup, menurut Kasali, bukanlah manusia cerdas. Mmm, ini menarik. Beberapa hari kemudian, tepatnya hari ini, Selasa 19 Juni, Kompas menurunkan berita soal ramainya antrean orang di gerbang pendidikan S2. Lagi-lagi, Kasali ikut bicara.

Buat yang belum tahu, Mr. Kasali adalah Ketua Program Magister Manajemen yang kondang dengan bukunya, Change. Buku itu mempengaruhi banyak pengambil keputusan di banyak perusahaan, termasuk CEO di sebuah perusahaan raksasa bidang media.

Kalau kita berpikir sedikit dalam, akan kita lihat adanya hubungan kuat antara perubahaan dan keterbukaan—openmindedness. Openmindedness dianggap satu state of mind yang setiap saat bisa mendorong orang untuk melakukan perubahan-perubahan yang dirasakan perlu.

Cuma, ada beberapa celah dalam gagasan openmindedness dan change ini. Pertama, dalam pemikiran Kasali, perubahan dianggap sebagai satu faktor dependen yang mesti kita picu, padahal dalam realitas, perubahan kerap menjadi determinan, pemicu, satu realitas yang berada di luar diri kita dan justru menentukan hidup. Artinya adalah bahwa tanpa harus menginisiasi perubahan, kita kerap harus melakukan penyesuaian terhadap dunia makro di luar diri kita. Ini bukan satu hal hebat yang kita mulai. Kita hanya berperan sebagai satu8 kekuatan minor dalam satu gerak sunatullah yang digerakkan oleh satu kekuatan divine di atas sana. Cara berpikir voluntaristik Mr. Kasali dapat menyesatkan bagi orang yang tidak cukup paham bahwa dalam hidup, manusia cukup sering berada dalam keadaan di mana dia mesti menjadi seorang deterministik sejati.

Celah kedua berkaitan dengan openmindedness. Tidak dogmatis adalah salah satu kualifikasi orang cerdas menurut Kasali. Artinya orang tidak boleh terikat pada dogma. Menurut saya, ucapan Kasali itu pun merupakan dogma. Artinya pernyataan Kasali tentang orang cerdas itu mengandung satu lubang paradoksal yang lebar.

Palmerah

Rabu, 20 Juni 2007

01.01