Archive for August, 2007

Korianah, TKI asal Desa Gondang, Subah, Batang

Sunday, August 26th, 2007

BEKAS LUKA: Korianah, TKI asal Desa Gondang, Subah, Batang, didampingi pamannya Khodirin menunjukkan bekas luka siraman air panas yang dilakukan bekas majikannya di Selangor, Malaysia.

Manca1000tkw

TKI itu bernama NIRMALA BONAT!

Sunday, August 26th, 2007

Tetangga serumpun kita yang ramah itu telah meklakukan hal ini pada salah seorang warga negara kita.

Yup, they surely are FRIENDLY!

Maid

BANGSA INI TAK PUNYA HARGA DIRI!

Sunday, August 26th, 2007

Kita ini bangsa pengecut yang tak punya harga diri. Siapa pun bisa melakukan apa pun pada kita asalkan mereka tahu kita orang Indonesia.

Deretan kasus penganiayaan TKI, termasuk pekerja di perkebunan kelapa sawit yang kerap diperas polisi diraja Malaysia.

Mau yang lebih bombastis? Ingat kan Nirmala Bonat, TKI kita yang dianiaya secara brutal oleh majikannya di Malaysia? Padahal waktu itu Menteri Tenaga Kerja Indonesia (saat itu) Jacob Nuwa Wea telah menandatangani nota kesepahaman dengan rekannya dari Malaysia, Datuk Wira Fong Chan Oan, tentang penempatan tenaga kerja Indonesia di Malaysia.

Masih ada nama-nama lain seperti Parsiti dan Ceriyati Binti Dapin hingga TKI yang  tewas seperti Kurnasih. Namun, hingga kini proses hukum kasus-kasus tersebut masih mengantung dan kerap menghadapi kendala. Terlebih pelaku penyiksaan dapat bebas jika telah membayar uang jaminan!

Beberapa tahun yang lalu pun kita sempat diguncang oleh dicaploknya dua pulau kita, Sipadan dan Ligitan, oleh negara tetangga yang selalu mengaku bahwa kita serumpun itu. Yang tidak mengerti akan mengatakan bahwa Malysia wajar mendapatkan pulau tersebut karena mereka memang mengembangkan dua pulau tersebut. Padahal, yang terjadi adalah pada waktu itu pihak Malaysia terus membangun fasilitas-fasilitas di Pulau Sipadan tanpa mempedulikan mahkamah Internasional yang menginstruksikan kedua belah pihak untuk tidak ‘menyentuh’ Sipadan dan Ligitan sampai ada keputusan. Indonesia mengikuti instruksi tersebut, sedangkan Malaysia tidak menggubrisnya dan bahkan menjadikan Sipadan sebagai daerah tujuan wisata. Akhirnya Sipadan dan Ligitan jatuh ke tangan Malaysia karena Indonesia dianggap tidak menunjukkan sikap ketertarikan kepada Sipadan dan Ligitan.

Seolah tak puas, mereka juga mengincar sebuah blok yang kaya akan seumber daya minyak: Ambalat!

Selain itu, kini salah satu perusahaan televisi mereka masuk ke sini, mengambil alih siaran langsung EPL (dua hak siar sekaligus, terrestrial dan bayar) untuk kemudian mencoba mengeduk uang dari negara Indonesia ini.

Yang paling baru adalah penganiayaan Donal Pieter Luther Kolopita, ketua juri karate Indonesia, oleh polisi Malaysia.

Kalau pemerintah tidak bereaksi secara keras akibat peristiwa itu, memang tidak salah jika kita merasa bahwa pada dasarnya orang bangsa ini tidak lebih dari sekelompok pecundang yang tak bisa menjaga diri. Sama seperti ribuan orang di Jakarta yang dengan sukarela mengeluarkan Rp 200.000 untuk Astro dan mengatakan bahwa fenomena EPL di INA adalah "business as usual".

Benar-benar menyedihkan!

Ina 

_38219212_migrantflagap150

WASIT KARATE INDONESIA DIGEBUKI POLISI MALAYSIA!

Sunday, August 26th, 2007

KUALA LUMPUR–TERKINI: Donal Pieter Luther Kolopita, ketua juri karate Indonesia dipukuli oleh empat polisi Nilai, Negeri Sembilan, Malaysia.

KEJADIAN

Donal mengadakan rapat persiapan dengan wasit karate Indonesia di sebuah hotel di Nilai, Negeri Sembilan, Kamis malam hingga Jumat pukul 02.00 dini hari. Karena sulit dapat taksi, ia terpaksa berjalan kaki pulang ke hotelnya.

Belum jauh berjalan, tiba-tiba ada sedan putih berhenti dan penumpangnya diduga polisi reserse tiba-tiba ingin menangkapnya. Bukan saja berusaha menangkap tapi langsung memukuli di lokasi.

———————————————————————–

Indonesia Mundur dari Kejuaraan Karate Asia

Indonesia mundur dari Kejuaraan Karate Asia, menyusul perlakuan yang dinilai sangat keterlaluan terhadap wasit karate Indonesia Donald Luther Colopita oleh kepolisian Malaysia. Donald mengalami cedera dan kini dirawat intensif di Rumah Sakit Tunku Jafaar, Saremban, Negeri Sembilan, Malaysia.

Ketua Umum PB Forki Luhut Pandjaitan, yang dihubungi ketika mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu (25/8) petang menegaskan, pengunduran diri ini sebagai sikap protes keras atas perlakuan polisi Malaysia. "Kepala wasit kita, Donald Luther Colopita, dipukuli dengan alasan yang tak jelas, seperti menggebuki binatang saja," ujarnya.

Kondisi Donald kini sangat memprihatinkan. Luhut yang membezuknya ke rumah sakit melihat seluruh bagian muka Donald mengalami bengkak-bengkak, bahkan bagian alat vitalnya juga mengalami pembengkakan.

Insiden bermula ketika Donald dan wasit lainnya usai mengikuti technical meeting, Kamis malam hingga Jumat (24/8) dinihari. Karena pagi sekali, taksi tak ada. Lalu, Donald memilih jalan kaki ke hotel yang berjarak sekitar 1 km. Dalam perjalanan, tiba-tiba Donald didatangi polisi setempat yang langsung menghajarnya.

Menurut Luhut, pihaknya tidak bisa menerima perlakuan ini. Memperlakukan Donald seperti binatang. Ini sangat menjijikkan. Kejadian ini sangat memalukan. Seharusnya, selaku tuan rumah Malaysia harus memberikan jaminan keamanan kepada setiap delegasi peserta yang ikut berpartisipasi.

"Kasusnya sudah dilaporkan ke kepolisian setempat. Atas kejadian ini, Indonesia tidak saja menarik diri dari Kejuaraan Karate yang diikuti 32 negara ini, tetapi juga akan membawa permasalahan ini ke Federasi Karatedo Dunia (WKF)," papar Luhut.

"Pak Donald sudah teriak-teriak minta tolong pada masyarakat yang ada di sekitar itu tapi tidak ada yang mau menolong karena mungkin mereka tahu itu polisi reserse," kata Slamet.