Asian Games, Hegemoni, Rasa, dan Volly
Asian Games telah usai. Indonesia berhasil mencuri dua emas, tiga perak, dan 15 perunggu, tapi belum berhasil menemukan keberanian sedahsyat Malaysia: menyebut pesta olahraga se-Asia itu dalam bahasa mereka sendiri, yakni Sukan Asia.
Saya sempat bingung saat menemukan kata rowing dalam berita berbahasa Indonesia di laman kantor berita Indonesia. Olah raga apakah ini? Berbedakah dengan mendayung, yang menurut Kamus Inggris-Indonesia Echols-Shadily, yang sangat populer di negeri ini, merupakan padanan dari si rowing tadi? Kalau memang berbeda, disebut apakah olah raga dayung dalam bahasa Inggris? Sayang sekali saya bukan pakar dayung, walau cukup tahu bahwa cabang dayung berbeda dengan kano atau kayak dan bisa dilakukan saat banjir.
Di kesempatan lain, saya menemukan frasa kelas feather dan kelas fly di taekwondo. Apakah makna feather dan fly di sini berbeda dengan bulu dan terbang yang telah lama akrab di telinga pencinta tinju Indonesia? Barangkali feather dan fly di sini bukan berarti bulu dan terbang. Sekali lagi: saya bukan pakar taekwondo, walau cukup tahu Juana Wangsa Putri memang cumil, manis dan menarik, alias cute dalam bahasa Inggris.
Rasanya tidak begitu aneh kejayaan Indonesia di olah raga redup cenderung gelap. Mungkin karena kita tidak pernah punya cukup kepercayaan diri atau memang karena olah raga tak pernah benar-benar menjadi bagian dari kognisi kita. Ah, masak iya? Rasanya saya terlalu berburuk sangka. Namun, saya tak dapat menahan diri untuk tidak berpikir seperti itu. Bagaimana tidak? Tiap kali membuka lembar berita olah raga di koran, saya disuguhi kata-kata yang rasanya sulit disebut sebagai milik kita, milik Indonesia: single-scull, drawing (artinya jelas beda dengan yang tertera di buku gambar saya saat SMP), four oarscoaxless, four oars without coxwins, try out, best time, athlete’s village, venue, individual time trial,…. Belum cukup? Tambahkan kick off dan grand final. Hmmmm….
Mungkinkah satu saat kata-kata tersebut diindonesiakan? Mungkinkah alih-alih menggunakan versi bahasa Inggris, kita menggunakan versi bahasa Indonesia? Wah, saya tak berani bermimipi seindah itu. Buktinya dalam Daftar Kumulatif Istilah Asing Hasil Sidang Majelis Bahasa Indonesia-Malaysia terbitan Pusat Bahasa pada 1985, ada arena frasa olah raga sebagai padanan dari sport venue. Artinya venue bisa kita ganti dengan arena, bukan? Betul, tapi ternyata nasib arena sama–walau tidak lebih tragis dari–dengan sepak mula (padanan kick-off), yang menepi karena satu alasan yang kerap saya dengar: tidak enak.
Zona kenyamanan yang penuh ”bunyi-bunyi enak” itu yang menjadi surga bagi Asian Games, SEA Games, crossing, dan upper cut. Padahal tendangan penjuru, gelandang, bek, dan palang bertingkat kok ternyata enak ya? Mungkin karena sudah lama? Berarti kita alergi dengan kata bahasa Indonesia yang baru? Baru berarti tidak biasa, tidak biasa berarti tidak enak. Begitu?
Kalau benar begitu, berarti kata-kata bahasa Inggris itu tumbuh subur karena kita suka “rasanya”? Atau ada sebab lain, misalnya kita tidak sadar bahwa hegemoni bahasa tengah berlangsung? Hegemoni bahasa? Wah, itu kan Donaldo Macedo yang bilang. Profesor pendidikan di Universitas Massachusetts ini juga bilang bahwa hegemoni bahasa Inggris secara jelas mengambarkan bagaimana ideologi neoliberal globalisasi mengembangkan kebijakan bahasa yang mendominasi. Di Eropa dan AS, kebijakan ini mengarah pada diskriminasi linguistik dan budaya. Di wilayah lain di dunia, kebijakan ini bertujuan untuk menyingkirkan penggunaan dan partisipasi lebih besar bahasa-bahasa lain dalam perdagangan dunia dan organisasi-organisasi internasional.
Ah, masak sebegitu jauhnya sih? Ini kan “cuma” masalah bahasa ya? Kalaupun ternyata ada hegemoni, perlawanan toh tetap ada dari bahasa-bahasa lain. Barry James dalam artikelnya di Herald Tribune, “Online, and Off, English’s Hegemony Is Challenged Globally”, menyatakan bahwa memang bahasa Inggris merupakan bahasa perdagangan dan ilmu pengetahuan internasional, tapi situasi itu sekarang mulai berubah dan perubahannya terjadi amat cepat. Sebagai contoh, kini semakin banyak bahasa yang mengambil alih wilayah internet. Bahasa Jerman, Rusia, dan Spanyol (selain Perancis, bahasa yang sering dianggap paling giat melindungi diri dari invasi bahasa lain) mulai merebak di internet. Kita jadi tidak perlu khawatir akan terus dihegemoni bahasa Inggris, bukan?
Lalu bagaimana posisi bahasa Indonesia? Wah, jangan-jangan nasibnya akan seperti Nusantara kita dulu: jatuh dari tangan Portugis, ke genggaman Inggris, lalu ke cengkeraman Belanda, hingga ke bawah kaki Jepang. Ah, kok saya jadi berpikir terlalu jauh dan traumatis seperti itu ya? Ini kan, sekali lagi, “cuma” masalah bahasa, tidak mempengaruhi isi kas dan kocek toh? Tidak berhubungan dengan duit.
Alamak, kini saya ingat kenapa saya mesti berpikir sejauh itu: Gramsci bilang bahwa biasanya kelompok yang dihegemoni tidak sadar bahwa mereka dihegemoni. Segalanya terlihat wajar.
Walah, sudahlah. Mari kita lanjutkan saja menikmati Sukan Asia, Pesta Olahraga Asia, walaupun di Qatar sana kontingen Indonesia masih dihegemoni kontingen negara lain. Paling tidak KONI kita kan tidak dihegemoni bahasa Inggris. Buktinya, yang tertulis di situs milik organisasi ini bukan olahraga “volley”, melainkan “volly”. Lho?
***
Achmad L.