Kebangkitan Nasional II

Setelah menang atas Bahrain 2-1, kalah dari Arab Saudi 1-2 dan Republik Korea 0-1, timnas Indonesia gagal meraih tiket ke perempatfinal Piala Asia 2007. Namun, sebagai bangsa, kali ini kita meraih sesuatu yang jauh lebih penting!

Bukan keberhasilan pelaksanaan atau kesuksesan ’hanya kalah dengan sedikit gol’ dari para raksasa sepakbola

Asia

berkah signifikan yang mesti kita garisbawahi dari pelaksanaan AFC Asian Cup 2007. Penuhnya stadion juga bukan hal yang aneh bukan di negeri ”gila bola” ini. Satu pencapaian besar yang direnggut bangsa ini adalah kesuksesan dalam mengubah cara pandang kita terhadap diri sendiri!

Sebelum tiga laga Tim Merah-Putih, seluruh masyarakat–atau paling tidak mayoritas di antaranya–akan bicara soal sepakbola nasional dengan wajah masam, roman muka sinis, senyum penuh keengganan, alunan nada pesimistis, atau tarikan napas yang sarat kepasrahan. Kalimat-kalimat cacian yang diwarnai kegeraman pun mendominasi komentar yang berkaitan dengan sepakbola nasional, apalagi buat mereka yang berpengetahuan valid soal olah bisnis sepakbola Eropa.

Tidak sedikit sosok negeri ini yang menunjukkan gejala inferiority complex saat bergesekan dengan sepakbola domestik. Mereka jadi langsung mengeluarkan perilaku antisosial yang ekstrem, yang memang merupakan salah satu akibat dari inferiority complex: menimpuki kereta, menghancurkan pot di sepanjang jalan, membakar kursi stadion, bahkan mengemplang kepala orang!

Bahkan “penyakit mental” ini bahkan lalu tumbuh dalam level yang lebih luas: semua orang berlomba memakai kaus tim mancanegara, memajang poster pemain yang ada nun jauh di Eropa

sana

, membentuk kelompok suporter klub-klub Inggris atau Italia, dan membeli pernak-pernik klub-klub yang para pemainnya mungkin tidak tahu

Indonesia

ada di mana. Pada titik ini, inferiority complex tidak lagi berada dalam wilayah psikologi atau psikoanalisis, tapi sudah memasuki wilayah sosiologi, antropologi sosial, dan cultural studies. Yang dipengaruhi tak hanya individu, tetapi budaya secara keseluruhan. Gejala ini biasa disebut cultural cringe.

Pernah melihat orang menertawakan musik, film, atau produk-produk domestik lain saat dibandingkan dengan milik bangsa lain? Itu cultural cringe! Pernah dengar orang berkata “Dasar Melayu!”? Itu pun cultural cringe! Atau pernah menyaksikan orang memperlakukan karyawan asing lebih baik dari karyawan lokal? Itu juga gejala yang sama. Yang pernah bersekolah di luar negeri pun kerap dianggap “lebih” dari lulusan lokal. Alienasi kultural jadi satu manifestasi yang bisa dilihat pada individu-individu yang hidup dalam masyarakat yang menderita infeksi penyakit mental ini. 

Masyarakat yang dijangkiti ‘gangguan mental’ ini akan melihat budaya mereka secara keseluruhan inferior dibandingkan bangsa lain. Karena itu pula, segala sesuatu yang foreign-labeled, berlabel asing, jadi laku keras. Pembajakan produk asing dan waralaba pun merajalela. Peniruan dan plagiat merupakan bentuk kekaguman yang paling absolut, bukan?

Ada

perasaan bahwa segala yang domestik pasti kalah kelas. Istilah cultural cringe ini, oleh sebab itu, kerap dikatakan memiliki hubungan yang sangat erat dengan gejala colonial mentality. 

Adalah Arthur Angell Phillips, seorang pengajar, kritikus, dan penulis Australia, yang diketahui pertama kali menggunakan frase cultural cringe dalam esainya yang sangat kontroversial, “The Cultural Cringe“, yang dimuat dalam jurnal budaya Meanjin pada 1950-an. Tulisan alumnus Universitas Melbourne dan Oxford ini dianggap menjadi awal pekembangan teori-teori pascakolonial di Negeri Kanguru. Phillips saat itu menyaksikan bagaimana publik di negerinya berasumsi bahwa apa yang diproduksi dramawan, aktor, musisi, dan penulis lokal–dalam konteksnya–dianggap kalah kelas dibandingkan karya-karya Britania dan bangsa-bangsa lain di Eropa. Mirip, bukan, dengan kita di Nusantara yang indah dan permai ini?

Sekumpulan lelaki bernama Elie, Bambang, Ponaryo, Syamsul, Maman, Charis, Jendri, Firman, Richardo, Ridwan, dan Budi serta Markus di lapangan dan beberapa lainnya di bangku cadangan jadi lokomotif perubahan persepsi dan perspektif kita terhadap diri sendiri sebagai bangsa. Puluhan ribu lelaki, perempuan, dan anak-anak jadi gerbong pertama. Kita semua di mana pun di negeri ini mengiringi dengan setia di belakang.

Tak ada yang mengamuk karena kalah. Teriakan ”Indonesia! Indonesia!” di stadion dan di mana pun yang mewarnai kekalahan timnas serta tepukan tangan para penonton yang mengiringi pemain kita berjalan keluar lapangan setelah ditumbangkan Arab dan Korsel bukan fenomena biasa. Determinasi luar biasa para serdadu bangsa di lapangan hijau menegakkan kepala kita. Indonesia memang kalah, tapi jelas bukan pecundang. Tak ada yang tidak bangga menjadi rakyat Indonesia saat itu. Siapa pun yang berdarah Nusantara sangat bangga memakai kaus timnas, lebih bangga dibandingkan memakai kaus klub Eropa mana pun karena ini benar-benar ”milik kita”, identitas kita. Slogan ”Ini kandang kita!” pun jadi terdengar sangat cerdas dalam mengikat bangsa besar ini sekaligus menyembuhkan kita semua dari inferiority complex.

Modal besar untuk melangkah menuju kemajuan kini dalam genggaman. Para pemain Tim Garuda Merah-Putih luar biasa. Mereka hanya kalah skor dari Arab Saudi dan Korea, tidak kalah determinasi dan perjuangan. Bahkan saat dirugikan wasit dan hakim garis, para personel timnas tetap tidak kehilangan kecerdasan. Mereka tetap mampu mengontrol diri. Para pendukung juga memukau. Tak ada yang mengamuk berlebihan. Mereka datang bukan untuk merusak, melainkan mendukung sepenuh hati dengan segenap kebanggaan. Semua rela membeli tiket dan kaus, menunggu giliran, menoleransi kekurangan, menahan diri, dan menerima kekalahan. Kita, Indonesia, menjadi sekumpulan jiwa-jiwa besar yang masih bisa bertepuk tangan walau hati remuk karena sedih akibat kekalahan. Ada perubahan kepribadian pada diri kita semua sebagai bangsa.

Modal besar itu bukan hanya dalam urusan sepakbola. Mudah-mudahan kesembuhan kita dari penyakit minder total sebagai bangsa sembuh sempurna, tidak hanya sementara. Mudahan-mudahan cultural cringe benar-benar hilang. Mudah-mudahan pula nasionalisme dan kebanggaan kita sebagai bangsa kini menjadi bulat. Dalam bentuk third-world nationalism (nasionalisme dunia ketiga)–karena dulu kita pernah didera kolonialisme dan kini diimpit neokolonialisme–pun tak apalah. 

Kalau kita berhasil terus menggenggam modal ini dalam kepalan dan mulai mengubah secara komprehensif cara pandang terhadap diri sendiri sebagai bangsa dan seluruh atribut budaya serta sejarahnya, tanggal 10, 14, dan 18 Juli mungkin bisa jadi Hari Kebangkitan Nasional II.

Berlebihan? Rasanya tidak. Berdirinya Boedi Oetomo dianggap sebagai titik di mana kita mulai berhasil melihat identitas sebagai satu nation. Melihat betapa bingungnya kita sebagai nation saat ini serta betapa masih rendahnya kita memandang diri sendiri setelah 99 tahun Boedi Oetomo didirikan, momen yang ditorehkan sebelas lelaki berani di lapangan Stadion Gelora Bung Karno dan seluruh rakyat Indonesia pada Piala Asia 2007 jelas “sangat relevan dan signifikan”, bukan?      

oleh Achmad L.

Dimuat di "Freekick" Majalah BOLAVAGANZA No. 70, Agustus 2007

Leave a Reply