Otoritas Ketinggian
“Keuniversalan sepakbola terletak pada kesederhanaannya: gim ini dapat dimainkan di mana pun menggunakan apa pun.” Itu yang ditulis Sean Wilsey dalam bagian pengantar feature tentang sepakbola berjudul “The Beautiful Game: Why Soccer Rules The World” di majalah National Geographic, Juni 2006. Kalimat yang penuh kekaguman sekaligus propaganda terhadap hakikat sepakbola itu setahun kemudian–tepat saat ini–menjadi sangat usang dan tidak mengandung kebenaran lagi. Kalimat yang benar adalah: “Sepakbola dapat dimainkan di tempat mana pun, yang tingginya tak lebih dari 2.500 meter di atas permukaan laut.”
Adalah otoritas sepakbola tertinggi dunia yang membuat kalimat Wilsey menjadi obsolet. FIFA yang menyatakan bahwa bermain sepakbola di ketinggian lebih dari 8,200 kaki di atas permukaan laut merupakan satu hal yang tidak sehat bagi pemain. "Bisa mengakibatkan pusing-pusing, nausea, perubahan gastrointestinal, insomnia, dan kelelahan, yang bukan hanya menurunkan kinerja pemain, tapi juga mendekatkan mereka dengan kerusakan jangka panjang.” Itu pemaparan Dr. Raul Madero, Kepala Komisi Medis FIFA. Dokter, otoritas dalam bidang kesehatan, telah bicara. Sampai sini, aturan ini terlihat manusiawi.
Unsur otoritas menjadi sangat menarik di sini. FIFA merupakan otoritas tertinggi sepakbola dunia, sedangkan Dr. Madero merupakan otoritas dalam bidang kedokteran. Larangan yang ditetapkan FIFA berkaitan dengan masalah ketinggian itu pun jadi masuk akal bukan?
Ada tiga jenis otoritas dalam konteks politik menurut Max Weber. Yang pertama adalah otoritas legal rasional. Kekuasaan pada otoritas ini dilegitimasi oleh aturan-aturan eksplisit dan prosedur rasional yang menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Yang kedua adalah otoritas tradisional, di mana kekuasaan dilegitimasi oleh kesakralan kebiasaan-kebiasaan lama. Jenis terakhir adalah otoritas karismatik, kekuasaan dilegitimasi oleh manusia super yang luar biasa atau atribut-atribut supernatural yang dilekatkan orang pada seorang pemimpin.
Klasifikasi otoritas dalam konteks politik itu pun jadi relevan diterapkan di sini karena keputusan FIFA tersebut tiba-tiba menjadi sangat politis. Begitu politisnya sehingga seorang Evo Morales, Presiden Bolivia, merasa mesti ikut campur dalam urusan altitude ini. Dia sampai rela bermain sepakbola–bahkan mencetak satu gol–dalam satu “pertandingan politis” di Sajama, gunung tertinggi di negara-negara Amerika Selatan! Mengapa? Larangan FIFA membuat kota-kota Cochabamba (terletak 2.570 meter di atas permukaan laut), Sucre (2.860), La Paz (3.665), Oruro (3.966), dan Potosi (4.040) jadi tidak bisa menggelar partai-partai kualifikasi Piala Dunia. Kepentingan sepakbola Bolivia pun terancam.
Bagaimanakah sifat otoritas FIFA? Rasanya jelas. Otoritas FIFA bersifat legal-rasional. Ada aturan yang jelas dan ada prosedur-prosedur yang rasional. Paling tidak, sekilas begitulah tampaknya. Hingga titik ini, larangan FIFA tersebut tidak bermasalah.
Dr. Gustavo Zubieta Snr., seorang dokter berkebangsaan Bolivia, menyatakan,”Dibekali kesehatan mental dan fisik yang baik, seseorang dapat melakukan olahraga apa pun pada ketinggian berapa pun.” Nah! Ivo Eterovic, seorang dokter asal Bolivia yang lain, anggota komite medis South American Football Confederation (CSF), menyatakan bahwa setelah melakukan pertemuan komite, FIFA setuju untuk menghapus larangan tersebut. Pertandingan boleh digelar pada ketinggian 2.800 meter, tapi tidak lebih dari 3.000 meter. Namun, pernyataan itu dibantah oleh juru bicara FIFA. Nah lagi! Selanjutnya, dokter timnas Peru, Javier Arce, menyatakan bahwa pertandingan juga seharusnya tidak boleh dilakukan di tempat-tempat yang panas dan lembap di beberapa negara berdataran rendah. Mmmm!
Otoritas Dr. Raul Madero mendapat tantangan di sini. Jika ingin membantah seorang dokter secara efektif, suruh dokter lain melakukannya. Sampai titik ini, otoritas FIFA jadi tidak terlihat terlalu rasional. Kesan mengada-ada kuat membayangi langkah FIFA ini. Orang-orang yang penuh rasa curiga di Bolivia dan Peru mulai menunjuk hidung Brasil, Argentina, dan Uruguay berada di belakang larangan ini. Apalagi Pele pun ikut mendukung larangan tersebut. Namun, mungkinkah kecurigaan tersebut benar? Apakah mungkin FIFA lebih suka memuluskan langkah Brasil, Argentina, dan Uruguay dalam kualifikasi Piala Dunia? Apa FIFA mendapat keuntungan lebih dari Piala Dunia yang berisi tiga negara kuat sepakbola itu dibanding World Cup yang dihiasi Bolivia dan Peru? Mmm?
Apa pun jawaban pertanyaan di atas, isu ketinggian oleh FIFA ini mesti membuat pengikut Max Weber berpikir keras. Klasifikasi otoritas yang ditelurkan guru mereka menjadi kuno dalam kasus politik ala FIFA karena ternyata otoritas FIFA tidak terbukti bersifat rasional, meskipun tetap legal. Buktinya para dokter tidak secara aklamasi menyatakan bahwa ketinggian mempengaruhi kesehatan pemain dalam skala yang sangat berbahaya. Harus ada satu jenis otoritas lain. Yang bersifat legal-irasional barangkali?
Pendapat dokter yang mana yang benar rasanya sulit dibuktikan oleh semua dari kita yang bukan dokter. Satu yang kita tahu: Bolivia lumayan sering menyulitkan tim-tim kuat di La Paz. Dalam kulaifikasi Piala Dunia 2006 di Amerika Latin, Bolivia sempat menahan Uruguay 0-0 dan Brasil 1-1 di La Paz. Di Montevideo, Bolivia dihajar Uruguay 0-5, dan di Sao Paulo dilindas Brasil 1-3. Mmmm?
Yah, benarkah kecurigaan Bolivia? Kita tidak tahu, dan mungkin tak akan pernah tahu. Namun, tudingan diskriminasi Evo Morales dan para insan sepakbola Bolivia juga rasanya layak didengar. Bukan apa-apa, rasanya kita pun di Indonesia akan bersikap sama jika tiba-tiba Piala Asia tak boleh digelar di kota yang arus lalu lintasnya macet, kebanjiran tiap tahun, dan suhunya di atas 35 derajat celcius setelah Tim Merah-Putih berhasil mengalahkan Korea Selatan dan Bahrain, lalu menahan imbang Arab Saudi. Apalagi jika alasannya adalah kuman-kuman penyakit sisa banjir dan karbonmonoksida dari knalpot dalam suhu di atas 30 derajat celcius bisa memunculkan kerusakan permanen pada pemain.
Jika itu benar-benar terjadi, rasanya tak tepat percaya lagi pada Max Weber atau para dokter dan ahli kesehatan. Kalau keadaan sudah sengawur itu, ucapan seorang Evo Morales jadi sangat menarik dan terasa dapat dipercaya plus mudah dibuktikan sendiri: “Di mana pun Anda bisa bercinta, di situ Anda dapat memainkan olahraga apa pun."
Nah!
oleh Achmad L.
Dimuat di Majalah BOLAVAGANZA No. 69, Juli 2007
October 30th, 2008 at 3:04 am
Otoritas Max Webernya
cukup membantudalam penyelesaian tugas politik saya.
Thanks..
December 17th, 2008 at 8:28 am
you’re very welcome