Sepakbola Industri?

“Sepakbola modern telah menjadi industri.” Diktum ini bergaung di tiap ruang yang dipenuhi berbagai diskusi sepakbola, tapi elaborasi maknanya kerap simpang siur dan cenderung buram.

Setelah Perang Dunia II, dengan bantuan melimpah dari pemerintah AS, lahirlah satu generasi baru ilmuwan politik, ekonomi, dan para ahli sosiologi, psikologi, antropologi, serta ahli kependudukan. Mereka semua menghasilkan karya-karya tentang negara-negara Dunia Ketiga. Apa tujuannya? Cuma satu: menyajikan model pembanguan bagi negara-negara Dunia Ketiga–negara-negara di Asia dan Afrika yang pada era itu banyak muncul karena baru meraih kemerdekaan.

Deretan nama seperti Daniel Lerner, Marion Levy, Neil Smelser, Samuel Eisenstadt, dan Gabriel Almond memunculkan teori modernisasi, panduan bagi Dunia Ketiga untuk menjadi negara modern. Semodern apa? Semodern Amerika dan Eropa tentu.

Jelas terlihat bahwa Amerika dan negara-negara Eropa menyajikan diri sebagai model yang wajib ditiru negara-negara periferal yang ingin maju. Jika itu dilakukan negara-negara Dunia Ketiga, tentu akan terjadi homogenisasi. Artinya segala hal dalam negara-negara Dunia Ketiga akan serupa dengan apa yang ada di Amerika dan Eropa. Bukan hanya struktur politik, ekonomi, dan sosial, tapi juga makanan yang disantap dan pakaian yang dikenakan. Beberapa pengkritik teori modernisasi menyatakan bahwa proses modernisasi dalam teori itu tidak lebih dari proses ”amerikaisasi” dan ”eropaisasi”.

Ada kritik lain terhadap teori modernisasi. Untuk menjadi modern secara ekonomi, diperlukan sumber daya. Salah satu jalan mendapatkan sumber daya adalah penanaman modal asing. Pada titik ini, para pengkritik teori modernisasi menjatuhkan vonis bahwa teori itu diciptakan bagi kepentingan negara-negara maju di Eropa dan Amerika. Kenapa? Karena masuknya modal asing pada akhirnya akan membuat negara-negara ketiga sangat bergantung pada Amerika dan negara-negara maju lain di Eropa. Pernyataan dan kritik ini pun tertuang dalam teori dependensi.

Teori ketergantungan atau dependensi ini fokus pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan negara-negara Dunia Ketiga. Artinya teori ini merepresentasikan suara negara-negara pinggiran untuk menentang hegemoni politik, ekonomi, budaya, dan intelektual darinegara maju. Teori ini mengungkapkan bagaimana dependensi negara Dunia Ketiga akan tercipta akibat adanya ketergantungan teknologi industri pada negara maju. Fluktuasi neraca pembayaran internasional juga akan sangat memengaruhi. Di sisi lain, negara maju kerap meraup keuntungan besar dari negara pinggiran dalam wujud biaya transportasi, pembayaran royalti, biaya bantuan teknis. Secara tegas, Theotonio Dos Santos dalam The Structure of Dependence menyatakan bahwa modal yang keluar dari negara pinggiran akan selalu lebih besar dari modal yang masuk.

Kaitannya dengan Sepakbola?

Apakah kaitan semua kajian akademis dalam Perubahan Sosial dan Pembangunan, yang disusun Suwarsono dan Alvin Y. So, itu dengan sepakbola? Jika kita melihat sepakbola Indonesia saat ini, ada keriuhan yang aromanya tidak lain merupakan upaya pencarian model pengembangan untuk mencapai kemajuan.

Banyak suara yang berupaya menggiring opini bahwa sepakbola Nusantara mesti menjadi industri dan model yang selalu diusung adalah sepakbola Eropa–untunglah Amerika bukan negara yang sepakbolanya digdaya. Belakangan ini, UEFA Champions League dan English Premier League kerap menjadi fokus kekaguman, apalagi jika diskusi tergelar di sekitar masalah jumlah uang yang diputar. Mmm, liur terasa siap tercurah. Namun, begitu dalamnya kita tenggelam dalam keterpukauan akibat kilau dua liga Benua Biru itu hingga kita tak pernah bertanya apakah formulasi sepakbola industri memang merupakan sarana yang tepat bagi kita untuk mendatangkan kemajuan?

Seperti kita tahu bersama, teori modernisasi tidak memajukan sebagian besar bangsa Asia dan Afrika. Ada kecurigaan bahwa Amerika dan Eropa cuma ingin mengakali kita di negara pinggiran. Mahathir Mohammad bahkan secara tegas menolak ideologi demokrasi ala Amerika. Malaysia mesti memformulasikan demokrasinya sendiri. Itu yang ia tegaskan saat menjadi PM.

Belakangan bahkan kecurigaan terhadap ”upaya menyajikan model pembangunan” yang dilakukan AS dan Eropa kian memuncak dengan munculnya buku Confessions of an Economic Hitman oleh John Perkins, yang mengaku sebagai salah seorang mantan economic hitman, algojo ekonomi. Perkins bersaksi bahwa Amerika meminjamkan sejumlah besar uang yang tak mungkin terbayar kepada negara-negara miskin. Tujuannya? Mengambil alih kontrol atas perekonomian negara itu. Buku itu menguak fakta bahwa banyak dari negara Dunia Ketiga kerap dibenamkan dalam jurang kebangkrutan supaya makin bergantung pada negara maju di Eropa dan Amerika. David C. Korten dalam buku Getting to the 21st Century: Voluntary Action and the Global Agenda menggambarkan bahwa fenomena ini mengulang pola kolonialisme. Jika dulu yang menjadi kekuatan untuk mengontrol adalah militer, kini utang.

Semua fakta di atas layak menjadi alarm buat kita agar lebih seksama dalam menentukan arah dan memilih model yang pas bagi perkembangan sepakbola Indonesia.

Apakah industrialisasi sepakbola serupa EPL pas untuk kita? Hawabannya tentu tidak sesederhana ”ya” dan ”tidak”. Pemahaman menyeluruh soal posisi sepakbola kita dalam konstelasi sepakbola dunia jelas dibutuhkan. Selain itu, juga perlu ditahui seberapa besar ketergantungan kita terhadap teknologi sepakbola Eropa dan Amerika, misalnya.

*****

1992. Yugoslavia dijatuhi sanksi oleh UEFA: dicabut dari putaran final Euro. Denmark masuk menggantikan. Di luar dugaan, mereka menjadi yang terbaik dalam pergelaran itu.

2004. Sepasukan ”pemain kurang terkenal” berada dalam satu gerbong berlabel Yunani. Nama-nama Theo Zagorakis, Angelos Charisteas, dan Antonios Nikopolidis tidak sementereng Wayne Rooney, Frank Lampard, atau Seteven Gerrard, para individu yang sepakbola negaranya telah menjadi industri. Namun, kelompok pemain medioker asal Yunani itulah yang jadi juara.

2006. Italia mengentak dunia dengan menjadi yang terbaik di Piala Dunia di Jerman. Walaupun pernah menjadi industri yang gemerlap, sepakbola Italia saat itu tidak dibanjiri uang sebesar EPL. Bahkan goresan luka akibat calciopoli dan gelapnya gambaran nasib pada musim kompetisi berikutnya membayangi perjuangan para Italiano. Mereka berjuang dengan harga diri tergores.

Brasil. Lima kali negara ini merebut Piala Dunia. Negara yang kompetisi domestiknya penuh cacat ini menjadi negara yang paling sering berpesta seusai Piala Dunia. Sepakbola di sana jelas bukan industri. Sebagian besar dari para pemain yang memperkuat Selecao tumbuh dan mengais rezeki di Eropa.

Inggris? Sejak kompetisi domestik mereka menjadi begitu berkilau pada awal dekade 90’-an, prestasi mereka di Euro dan PD kerap menggemaskan: tak pernah sekali pun mencapai final. Tak ada trofi anyar level di ruang kantor FA. Kejayaan Inggris dalam sepuluh tahun terakhir hanya berhenti di kota pelabuhan Liverpool: gelar Piala UEFA 2000-2001 dan Liga Champion 2004-2005.

*****

Segelintir fakta di atas mestinya membuat kita lebih berhati-hati dalam menilai industri sepakbola. Kita di Indonesia jelas harus lebih cermat dalam menentukan model pengembangan sepakbola nasional. Ada bukti-bukti jelas bahwa menjelma menjadi sepakbola industri bukan solusi tunggal demi mencapai prestasi gemilang di pentas dunia.

Uang kadang bisa menjadi sangat impoten dalam urusan meraih prestasi. Sifat industri yang serakah justru bisa mengaburkan fokus dalam upaya untuk menjadi yang terbaik. Empat musim Real Madrid mengalami masa tanpa trofi. Jose Mourinho kerap gagal di pentas Eropa bersama Chelsea meski ia merengkuh kesuksesan besar saat bersama Porto, satu klub yang jelas tak segemerlap The Blues.

”Sepakbola modern–lebih tepat jika kita mengatakan sepakbola pascamodern atau sepakbola latemodernity–telah menjadi industri.” Itu mungkin benar, tapi sepertinya saat ini kita tak perlu mengucapkan kalimat tersebut dengan penuh kekaguman lagi.

Bagaimana?

 

oleh Achmad L

Leave a Reply