Archive for October, 2007

TILANG AJA!

Wednesday, October 3rd, 2007

Yang masih takut ditilang sehingga malah memilih NYOGOK, well kalian memang manusia tikus!

TILANG AJA NGGAK USAH TAKUT!!!! (Pengalaman seorang teman)

temen-temen kalo ditilang di jalan oleh polisi apapun, jangan sekali2 damai atau ngasi duit,bilang tilang aja langsung. hasilnya tuh plokis pasti bete karena gak dapet duit, kedua, ngurusnya gampang kok, dan dendanya resmi…begitu sodara..sodara.

Tips nya :

1. kalo ditilang di jalan sebenernya ada dua pilihan (saya juga baru tahu), form biru dan form merah.

2. Form biru adalah kalo kita terima kesalahan (artinya gak perlu berdebat ama hakim). Dgn form ini kita bayar dendanya di BRI yg ditunjuk, abis bayar denda resmi ke BRI, ambil SIM ato STNK yg disita ke kantor Ditlantas POLDA Metro di Pancoran, gedung baru, sebelum Gelael arah cawang. Disini ada ruang khusus loket Tilang, ruang tunggu nyaman ber-AC, dengan hiburan SateliteTV (norak ya gue)

3. Form merah artinya kita gak terima kesalahan , dan dikasi kesempatan untuk berdebat ato minta keringanan ama hakim. Biasanya tanggal sidang adalah maksimum 14 hari dari tanggal kejadian, tergantung hari sidang Tilang di PN (Pengadilan Negeri) bersangkutan. Contoh seandainya ditilang di Kuningan, berarti sidang di PN Jaksel, jl ampera, disini sidang tilang setiap selasa. Nah oleh polisi,barang sitaan (SIM or STNK) akan disetor ke kantor Ditlantas pancoran itu sampai dengan H-1 tanggal sidang. Jadi selama masih di pancoran SIM/STNK itu bisa ditebus tanpa sidang ke PN, cukup ke loket yg saya sebutin tadi, serahin form merah, bayar dendanya, SIM/STNK balik dengan sukses.

4. H-1 tgl sidang dan seterusnya, SIM/STNK udah dikirim ke pengadilan sesuai daerah perkara, jadi kudu ditebus di PN masing2

5. Kalo pengen hadir sidang, dateng sesuai tanggal sidang yang tertera di surat Tilang ke PN yg ditunjuk. Tapi ini gak saya saranin. Kenapa ? karena antreannya luarbiasa banyak, kita gak punya kesempatan bertemu hakim, karena sidangnya sebenarnya IN ABSENTIA, dan banyak banget CALO yg nawarin bantuan. Mending enggak deh.

6. Lebih baik cuekin aja tanggal sidang, ambil SIM/STNK terserah kiat di hari lain, hindari hari sidang tilang biar gak rame, terus langsung tuju Loket khusus Tilang yang ada di masing2 PN. Tunjukin form merahnya, dalam 5 menit SIM/STNK udah di tangan kita dengan bayar denda resmi. Sebelumnya cermati berapa denda resminya, biar gak dilebih2in ama petugasnya . Contoh nih, saya tahu denda masuk jalur cepat (saya naik motor) Rp.15000, petugasnya bilang Rp.15600, dikasi angka 600 seolah2 itu perhitungan rumus2 njelimet, padahal akal2an aja biar ada yg masuk kantong dia. Saya kasi uang bullet 15.000 dia diem aja kok..hehe

7. Udah ngerti kan. jadi intinya : jangan sekali2 damai ama polisi di jalanan, tilang mah tilang aja, pilih prosedur sesuai tips diatas,gak usah sidang kalo gak pengen bete, cuekin calo2 yg nawarin bantuan, bayar denda sesuai tarif resmi. Semua ini demi INDONESIA yg bersih dan berwibawa gemah ripah loh jinawi…hehehehe PS : Silakan disebar ke temen2, biar gak ada yg diperas ama plokis,calo dll.

(sumber: http://www.pintunet.com/lihat_opini.php?pg=2007/07/03072007/60176)

POLISI BOGOR!

Wednesday, October 3rd, 2007

3. Polisi (Pak Ogah Lebih Berisi)

Mungkin judul di atas terlalu panas bila didengar oleh para aparat kepolisian kita. Tetapi bagi saya judul tersebut kurang lebih dapat mewakili arti polisi, khususnya polisi lalu lintas. Sepertinya polisi di negara kita ini sebagian besar sangat bangga dan bahkan ingin menjadi anggota polantas. Sudah menjadi rahasia umum kalau polantas di negeri kita ini ‘mata duitan’. Di kota manapun, kita bisa menjadi ‘korban’ ‘keganasan’ mereka.

Saya pernah merasakan betapa para polantas selalu mencaro-cari kesalahan para pengguna jalan raya, khususnya para pengendara sepeda motor. Di Bandung, Bekasi, dan beberapa kota lainnya, saya pernah terkena ’tilang’. Kesalahan saya waktu itu sebagian besar karena salah berbelok, dan pernah karena tidak membawa SIM.

Peristiwa yang sangat menakutkan terjadi pada tahun 1997 ketika saya masih duduk di SMA . Kala itu saya dalam perjalanan pulang ke rumah bersama seorang teman. Kecepatan motor saya waktu itu kira-kira 70-80 km/jam, ya lumayan cepat karena saya ingin sampai rumah agar tidak ketinggalan untuk menunaikan ibadah sholat jum’at. Alangkah kagetnya, ketika di sebuah belokan ada dua orang polisi, salah seorang di antaranya menuju ke tengah-tengah jalan dan memasang kuda-kuda seraya menodongkan pistolnya ke arah kami. Saya pun menghentikan kendaraan dan dihampiri polisi. Kesalahan saya waktu itu saya tidak membawa SIM. Kedua polisi itu tidak menawarkan surat tilang, melainkan langsung mengajak ‘damai’. Uang saya yang tinggal 20 ribu diambilnya, padahal itulah sisa uang yang ada di dompet. Saya meminta dikembalikan setengahnya, tetapi tidak diberikan. Apakah begini cara kerja polantas kita? Bukankah mereka seharusnya mengayomi dan melindungi masyarakat? Haruskah si oknum tersebut menodongkan pistolnya?
Setahu saya, polantas Bogor itu memang paling ‘matre’ di antara kota-kota lainnya di Indonesia. Masih banyak cerita miring mengenai polisi Bogor yang pernah saya alami, bukan hanya polantas-nya.

Maaf, saya tidak bermaksud untuk sekedar ‘curhat’. Tetapi inilah pengalaman saya atas perlakuan polantas yang ’sombong’. Untuk para aparat kepolisian, khususnya di Bogor, maafkan atas kejujuran saya ini.
Semoga aparat kepolisian kita dapat lebih menghargai masyarakat, karena tugas utama mereka adalah mengayomi dan melindungi warga. Bukankah begitu?

(sumber: http://www.pintunet.com/lihat_opini.php?pg=2006/04/04042006/38085)

POLISI BOGOR!

Wednesday, October 3rd, 2007

2.Denda Damai Motor Modifikasi

Kejadian yang saya alami menambah daftar kebobrokan citra polisi wilayah Bogor, Jawa Barat, yang memang terkenal sangat "ganas" kepada pengendara sepeda motor yang berpelat B (Jakarta). Ironisnya ini terjadi saat saya akan merayakan Hari Kemerdekaan di kampung halaman, Bogor.

Ketika melintasi pos polisi Ciawi, Bogor, tiba-tiba seorang polisi lalu lintas keluar dari balik pohon dan menyetop sepeda motor saya, dengan cara merentangkan kedua tangan. Ketika saya bertanya apa kesalahan saya, dengan bangga dia menjawab bahwa saya telah bersalah karena telah memodifikasi sepeda motor. Padahal surat-surat, tutup pentil, dan kaca spion lengkap. Modifikasi sepeda motor yang saya lakukan pun tidak mengubah warna pabrik.

Polisi lalu lintas berinisial DA itu menyuruh saya membayar sebesar Rp 300.000 atau sepeda motor saya akan dikandangkan. Setelah tawar-menawar harga, akhirnya saya membayar uang denda damai sebesar Rp 200.000. Sambil mengucapkan sumpah serapah, saya meninggalkan pos polisi tersebut. Padahal di depan kantor pos polisi tersebut terpampang dengan jelas tulisan, "Mengayomi dan Melindungi Masyarakat".

Kepada para bikers dari Jakarta yang ingin berlibur ke daerah Bogor/Puncak harap berhati-hati. Atau alangkah baiknya membawa uang sebanyak-banyaknya untuk membayar denda damai agar sepeda motor tidak ditahan. Zahra Kota Bambu RT 004 RW 001, Palmerah, Jakarta

(sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/21/opini/3857486.htm)

POLISI BOGOR!

Wednesday, October 3rd, 2007

1. Polisi Mesum Pencabut Nyawa

Nia Sari tewas sia-sia di tangan polisi brengsek. Padahal, Nia tak melanggar hukum. Dia bukan penjahat, juga bukan teroris. Nia hanya gadis remaja yang lugu. Usianya baru 15 tahun. Satu-satunya "dosanya" terhadap si biadab –begitu belakangan warga menjuluki polisi itu– adalah menolak diajak berbuat mesum.

Akibatnya, Brigadir Kepala Suwandi, polisi yang sudah tak kuasa menahan gelora syahwatnya itu, jadi kesal berat. Lebih-lebih, Nia berusaha lari dan mengancam akan melapor ke atasan Suwandi. Suwandi pun mengacungkan pistol ke arah kepala Nia. "Kutembak kau!" bentaknya.

Ternyata ia benar-benar menarik pelatuk pistol. Dor! Di tempat sepi tengah malam, Senin pekan lalu, itu Nia tersungkur. Sebutir peluru menembus bagian belakang kepala dan bersarang di pelipis kirinya. Diperkirakan gadis malang itu tewas seketika.

Suwandi menyeret mayatnya sejauh lima meter ke semak-semak. Kemudian anggota Kepolisian Resor (Polres) Bogor, Jawa Barat, itu menyalakan motornya. Sempat mampir ke Polres, Suwandi kemudian pulang ke rumah. Kepada sang istri, ayah dua anak itu dengan tenang menyatakan bahwa ia pulang agak telat karena habis tugas malam.

Seolah tak pernah terjadi apa-apa, dia kemudian tidur pulas hingga pagi hari. Bangun tidur, Suwandi kembali ngantor. Ia masih tenang-tenang saja. Atasan dan sejawatnya belum mengetahui laku biadab Suwandi. Bahkan, ketika warga menemukan mayat korban pada pagi itu, polisi sempat mengira korban tewas di tangan perampok.

Warga menemukan mayat Nia pada Selasa pagi, telentang di semak-semak di belakang kantor Desa Tengah, Cibinong, Bogor. Kepalanya digenangi darah kental. Baju kaus dan kutangnya tersingkap. Kancing dan risleting celana jinsnya terbuka.

Warga melaporkan penemuan itu ke polisi. Dari pengusutan polisi ketahuanlah pelakunya Brigadir Suwandi. Nah, Suwandi pun lantas mengarang cerita. Katanya, dia terpaksa menembak karena mengira korban akan merampas sepeda motor Yamaha Vega-R miliknya.

Suwandi bilang, di malam nahas itu Nia berjalan-jalan bersama pemuda tetangganya, Nasih Alwali alias Dede. Mereka mengendarai sepeda motor Suzuki Thunder. Tak jauh dari Polres Bogor, motor tersebut mogok kehabisan bensin. Suwandi sempat mengantar Dede ke pangkalan ojek guna diantar mencari bensin.

Setelah itu, Suwandi balik ke tempat Nia yang menunggu motor Suzuki. Suwandi mengajak Nia muter-muter, katanya, untuk mencari bensin. Eh, tak tahunya Nia diajak ke tempat sepi di belakang kantor Desa Tengah. Nia manut saja karena mungkin merasa aman bersama polisi. Atau mungkin saja Nia segan menolak karena Suwandi polisi.

Tiba di situ, telepon seluler Suwandi berdering. Pada saat bertelepon itulah, kata Suwandi, Nia mengambil alih kemudi motor dan tancap gas. Suwandi berteriak, mencoba menghentikan Nia. Tapi, katanya pula, Nia tetap kabur. "Saya langsung menembaknya karena panik." Begitulah awalnya pengakuan Suwandi kepada atasannya.

Sulit dipercaya, oknum polisi satu ini enteng saja mengarang cerita dan memutarbalikkan fakta. Bagaimana mungkin seorang gadis belia berani merampas motor polisi? Katakanlah Nia memang hendak merampas, kenapa sampai harus ditembak kepalanya? Tidakkah bisa dilumpuhkan tanpa harus membunuh?

Kalaupun Nia benar penjahat seperti dituduhkan, sepatutnya pulalah Suwandi segera melaporkan penembakan itu kepada atasan. Dan Suwandi bersama pihak kepolisian haruslah secara resmi mengurus jenazahnya, bukan malah menyembunyikannya di semak.

Celakanya pula, ocehan yang sama sekali tak masuk di akal itu, apalagi di akal polisi yang sudah banyak makan asam garam, sempat dipercaya sejawat dan atasannya. Celotehan kosong itulah yang kemudian dipaparkan Kepala Polres Bogor, Ajun Komisaris Besar Arief Ontowiryo, kepada wartawan, Rabu pekan lalu.

Menurut Arief, ketika Suwandi menerima telepon, korban mengambil alih kemudi motor. "Karena panik, Sw (Suwandi) mengarahkan pistol ke korban, dan tembakannya mengenai kepala korban," kata Kapolres pada waktu itu.

Keruan saja, pernyataan resmi polisi ini –yang terkesan asal membela korps secara membuta– mendapat reaksi keras. Keluarga korban tak bisa menerima pengakuan Suwandi. Sebab, menurut mereka, jangankan merampas sepeda motor –apalagi motor polisi– mengendarai motor saja Nia tak bisa.

"Itu fitnah, sangat menyakitkan kami," kata Mahmudin, kakak kandung Nia. Ibu korban, Ny. Sani, sangat terpukul. Ia shock mendapat kenyataan putrinya terbunuh, dituduh pula sebagai perampok. "Pokoknya, saya tidak terima apa yang dikemukakan polisi," teriak Ny. Sani sesenggukan, lalu pingsan beberapa kali.

Keluarga korban juga menepis tudingan polisi bahwa korban bersama Dede berkomplot untuk menggasak motor Suwandi. Mereka mengatakan, sungguh membutuhkan nyali luar biasa besar bagi sepasang remaja untuk merampas motor milik polisi dengan modus mogok di kantor polisi. Apalagi, kedua remaja itu tak punya catatan kriminal.

Masyarakat pun, terutama di lingkungan tempat tinggal korban di Kampung Citayam, Kecamatan Bojong Gede, Bogor, menolak cerita versi polisi itu. Pengamat hukum dan anggota dewan juga bereaksi. Indonesia Police Watch (IPW), lembaga swadaya yang getol menyoroti polisi, turut mengecam keras.

"Logikanya, nggak mungkinlah korban berani. Itu hanya karangan polisi untuk menjaga nama baik korps. Pembelaan asal-asalan ini justru bisa merusak citra polisi," kata Ketua Presidium IPW, Neta S. Pane, kepada Gatra. Ia ketika itu meminta petinggi polisi mengusut tuntas kasus tersebut.

Syukurlah, reaksi-reaksi keras itu mendapat perhatian petinggi polisi. Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat, Inspektur Jenderal Soenarko Danu Ardanto, bergegas menurunkan dua tim ke Polres Bogor untuk mengusut kasut tersebut.

Tim pertama di bawah koordinasi Kabid Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Jawa Barat, Komisaris Besar (Kombes) Adri Widuhung, serta Direktur Intelijen dan Keamanan Polda Jawa Barat, Kombes Slamet Sopandi. Tim ini fokus terhadap pelanggaran profesi yang dilakukan tersangka.

Adapun tim kedua di bawah koordinasi Direktur Reserse dan Kriminal Polda Jawa Barat, Kombes Tatang Somantri. Tim kedua ini khusus menangani tindakan pelanggaran pidana yang diduga dilakukan tersangka. Syukur pula, kedua tim ini bekerja profesional.

Upaya Suwandi mengaburkan kasus pembunuhan itu pun terungkap sudah. Keterangan awal Suwandi terpatahkan semuanya. Anggota Intelijen dan Keamanan Polres Bogor itu akhirnya mengakui bahwa ia membunuh korban karena takut perbuatannya dilaporkan korban ke komandan.

Suwandi mengaku mencoba berbuat tak senonoh terhadap korban. Namun, karena korban melawan, "Oknum anggota Polri ini mengaku panik," kata Sunarko. Kepanikan ini membuat Suwandi mencoba membungkam korban dengan cara kelewatan: menembak kepalanya.

Hasil pengusutan yang menggembirakan ini dipaparkan Kapolres Arief Ontowiryo kepada pers di Polres Bogor, Jumat pekan lalu. Suwandi pun ditahan. Kapolres mengakui, sebelumnya ia terlalu terburu-buru mempercayai cerita bohong yang dikarang Suwandi. "Sekarang (Suwandi) sedang diperiksa intensif," kata Arief.

***

Mungkin sudah takdir Nia Sari harus meninggal ditembak polisi di usia belia. Di malam nahas itu, Nia kumpul di rumah teman yang juga tetangganya, Fitrah. Sedianya, dari situ mereka pergi ke tempat pengajian. Tapi acara pengajian batal. Nia pun pulang, diantar Dede, kakak Fitrah, mengendarai Suzuki Thunder.

Seharusnya Nia benar-benar pulang ke rumah. Tapi tiba-tiba saja ia ingin jalan-jalan dulu ke kota Bogor. Padahal, hari sudah malam. Dede tak keberatan. Mereka pun raun-raun sejenak di sudut-sudut "kota hujan" itu. Apes, bensin habis.

Motor pun mogok tak jauh dari Polres Bogor. Sepasang anak muda ini mendorong motor hingga berpeluh. Menjelang di seberang Polres Bogor, keduanya beristirahat sejenak. Dede tak waswas karena mengira, mogok di depan kantor polisi pastilah aman.

Ternyata pikiran lajang 19 tahun itu salah besar. Mereka memang aman dari penjahat sipil. Tapi bencana justru datang dari oknum polisi anggota Polres Bogor, Suwandi. Lulusan Sekolah Polisi Negara tahun 2000 ini kebetulan melintas, hendak ke Polres. Suwandi melambatkan laju Yamaha Vega-R warna hitam yang ditungganginya.

Dede menyetopnya dan minta diantar mencari bensin. "Saya kira tukang ojek," tutur Dede. Suwandi tak keberatan. Menurut Dede, ia menangkap kesan, pada waktu itu Suwandi sudah kesengsem terhadap Nia. Maklum, bunga Kampung Citayam ini cantik, menarik, dan berkulit mulus.

Agak waswas, Dede meninggalkan sepeda motornya dan Nia. Waktu menjelang pukul 22.30. Suwandi mengantarkan Dede ke pangkalan ojek, dan menyuruhnya mencari bensin dengan naik ojek di pangkalan tersebut. Dari tukang ojek beneran, Dede baru tahu bahwa yang mengantarnya barusan itu anggota intel polisi.

Setelah memperoleh bensin, Dede kembali ke depan kantor Polres Bogor. Motornya memang masih ada, bergeser ke depan Polres. Namun Nia sudah raib. Seketika Dede panik. Berkali-kali ia menghubungi telepon seluler Nia. Tapi tak ada jawaban. Boleh jadi, pada saat itu Nia sudah tewas atau masih tak berkutik di bawah "penguasaan" Suwandi.

Dede pun berputar-putar mencari Nia sampai dini hari. Tapi tetap nihil. Dia kemudian memacu motornya ke rumah Nia, mengecek keberadaan gadis itu. Ternyata korban belum pulang. Kepada keluarga korban, Dede menceritakan semuanya, termasuk soal sosok Suwandi. Keluarga Nia pun panik.

Paginya, warga Desa Tengah digegerkan dengan penemuan mayat Nia dengan luka tembak di kepala. Polisi yang dilapori segera meluncur ke TKP (tempat kejadian perkara). Kabar ini pun tersiar sampai ke Citayam. Ketika disebutkan ciri-cirinya, "Saya mau pingsan mendengar kabar itu," tutur Oman, ayah Dede, kepada Gatra.

Sani, Ibu Nia, langsung pingsan. Setelah siuman, Sani bersama Oman dan tetangganya pergi ke RS PMI Bogor guna menengok mayat Nia. Sedangkan Dede bersama Medi, tukang ojek yang mengantarnya membeli bensin, dimintai keterangan di kantor polisi.

Dari keterangan Dede dan si ojek, polisi mengantongi nama Suwandi yang diduga berada di balik kematian korban. Kepada penyidik, seperti telah dijelaskan di bagian awal, Suwandi mengaku menembak karena Nia hendak merampas motornya.

Sebelumnya, Suwandi juga berbohong kepada Sani, ibu korban, dengan mengatakan tak tahu perihal keberadaan Nia. Pagi itu, Sani sempat ke rumah Suwandi di asrama polisi di Cibinong, Bogor. Sani yang janda ini ditemani keluarga Dede dan Medi yang tahu rumah Suwandi, bermaksud menanyakan soal Nia.

Suwandi pada waktu itu masih tidur. Kedatangan mereka disambut istri Suwandi, Nani Suryani. Kepada tamunya, Nani menjelaskan bahwa suaminya masih pulas, kecapekan habis tugas malam. Toh, Suwandi akhirnya dibangunkan juga. Kepada Sani, Suwandi mengaku tak tahu mengenai keberadaan Nia.

Kata Suwandi, setelah mengantar Dede ke pangkalan ojek, ia langsung ke kantor Polres, kemudian pulang ke rumah. "Saya tak ketemu dia (Nia) lagi, tapi saya berusaha membantu mencarinya," kata polisi berbadan tegap itu, seperti dituturkan keluarga Dede kepada Gatra.

Siangnya, Oman menelepon Suwandi, mengabarkan penemuan mayat Nia. "Nia sudah ditemukan, tapi sudah meninggal dibunuh. Tolong, Pak, dibantu mencari pelakunya," ucap Oman di telepon. Suwandi berlagak ikut sedih dan berjanji akan berusaha menangkap pelakunya.

Padahal, pelakunya tak lain Suwandi sendiri. Pengakuan Suwandi kepada penyidik, sepulang mengantar Dede ke pangkalan ojek, ia kemudian menemui Nia. Benarlah kesan Dede, Suwandi rupanya tergiur kecantikan dan kemolekan Nia. Suwandi mengajak Nia untuk mencari bensin pula.

Awalnya Nia menolak. Tapi, setelah dirayu terus, gadis itu akhirnya mau juga. Di perjalanan, Suwandi mendapat telepon dari Brigadir Enteng, rekannya yang sedang piket di Polres Bogor. Suwandi memarkir motornya di penggalan Jalan K.S.R. Dadi Kusmayadi. Suasana di tepi kantor Desa Tengah itu gelap dan sepi. Tak ada penerangan jalan.

Enteng memintanya agar segera ke Polres. "Sebentar, saya lagi nyari bensin bersama teman," Suwandi menanggapi. Setelah bertelepon, kata Suwandi, ia meminta Nia menyetir motor. Atau, boleh jadi, Suwandi memaksa Nia untuk diajari nyetir motor. Dalam takutnya, Nia tak berani menolak.

Maka, Suwandi yang duduk di belakang enak saja meraba-raba dan memeluk tubuh Nia. Gadis yang bercita-cita menjadi bintang sinetron itu tersentak dan menolak secara halus. "Pak, jangan macam-macam, ah. Nanti saya laporkan ke atasan, lho," kata Nia, seperti dituturkan Suwandi kepada penyidik.

Suwandi tak peduli. Ia terus menggerayangi perut dan dada Nia. "Ayolah, sebentar saja," bisik Suwandi, penuh nafsu. Nia berontak keras sampai terjatuh dari motor. Gadis yang baru tamat SMP itu berusaha bangun dan melarikan diri. Pada saat itulah, masih menurut Suwandi, ia panik dan menembak Nia.

Menilik kepanikan itu, boleh jadi Suwandi sempat menodai korban. Sebab, kalau sekadar meraba-raba, kenapa begitu takut dilaporkan ke atasannya oleh korban? Tapi, soal dugaan memerkosa ini masih remang. Kapolda Sunarko dan Kapolres Arief hanya menyebut "berbuat tak senonoh".

Sedangkan hasil otopsi korban belum diketahui. Yang pasti, kelakuan Suwandi sangat mengejutkan sejawatnya. "Saya tak menyangka ia berbuat begitu," ujar seorang sejawatnya di Polres Bogor, yang mengaku mengenal Suwandi sebagai sosok yang supel dan bereputasi cukup baik.

Nani, istri Suwandi, sampai shock. Selama tujuh tahun berumah tangga, Nani mengenal Suwandi sebagai suami yang baik. Kapolda Sunarko menyesalkan laku anak buahnya yang mencoreng citra polisi itu. "Saya prihatin dengan kejadian itu dan memohon maaf kepada keluarga korban," kata Sunarko.

Ia berjanji akan memproses Suwandi secara transparan. "Tentunya akan diganjar hukuman setimpal, baik dari institusi maupun peradilan umum," ujar Sunarko. Ketua Presidum IPW, Neta Pane, menilai permintaan maaf tak cukup oleh Kapolda saja. "Kapolri juga harus minta maaf secara terbuka kepada keluarga korban, karena kasus ini dapat dikategorikan pelanggaran HAM berat," katanya.

Neta juga mendesak agar Kapolres Arief Ontowiryo mengundurkan diri. Arief dinilainya tidak bersikap arif dan tidak mampu menganalisis persoalan yang melibatkan anak buahnya. "Seharusnya sedari awal ia sudah tahu bahwa cerita Suwandi yang pertama itu bohong besar karena tak masuk akal sama sekali," ucap Neta.

Toh, ia cukup menghargai sikap polisi yang akan memproses Suwandi secara transparan. "Memang harus begitu. Citra polri dapat dijaga dengan cara-cara yang realistis, bukan dengan cara membela anak buah secara membuta," kata Neta. Iya tuh!

Taufik Alwie, Deni Muliya Barus, Anthony, dan Wisnu Wage Pamungkas (Bandung)
[Hukum, Gatra Nomor 43 Beredar Kamis 6 September 2007]

(sumber: http://www.gatra.com/2007-09-11/artikel.php?id=107574)

Wednesday, October 3rd, 2007

Kalau saya jadi orang Malaysia, saya akan malu pada diri saya sendiri karena saya ternyata berasal dari negara biadab. Yup, Malaysians, ypu’re more advanced than us Indonesians, but you’re definitely not more than a bunch of savage people….

Kasus TKI Diperkosa Di Malaysia, Indonesia Ajukan Protes

JAKARTA (Pos Kota) – Kasus perkosaan menimpa TKI berinisial EW asal Lampung, menurut Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno sudah ditangani tuntas oleh KBRI di Malaysia.

“Karena itu bagian dari kriminal, maka kasusnya sudah dilaporkan dan ditangani Kepolisian Malaysia,” kata Erman usai membagikan bantuan sembako pada 1.200 warga dari Jaringan Rakyat Miskin Kota di Kalibata, Selasa.

Erman juga menyayangkan tindakan pasukan RELA Malaysia yang memperlakukan TKI tidak senonoh. Menurutnya, ia telah memerintahkan atase tenaga kerja di Malaysia untuk mengajukan protes.

“Kita akan mengajukan protes, tapi karena itu perkara pidana biar kasusnya diselesaikan secara hukum yang berlaku dinegara tersebut,” ujarnya.

Tentang permasalahan yang menimpa TKI di luar negeri, Erman menjelaskan pemerintah Indonesia, Malaysia dan Arab Saudi siap membentuk tim khusus dalam satu atap pelayanan di negeri tempatan tersebut.

“Duta besar kedua negara tersebut sudah dipanggil dan keduanya menyatakan siap. Tapi yang paling utama adalah bagaimana pemerintah negara penempatan ikut bertanggung jawab terhadap majikan yang menggunakan tki,” ujarnya.

Misalnya, majikan berbuat jahat harus ditindak setimpal sesuai perbuatannya dan itu sudah disanggupi. Terbukti, pemerinath arab saudi telah mengeluarkan peraturan ketenagakerjaan baru bagi majikan yang mempekerjakan tenaga kerja ilegal.

MINTA BUBARKAN

Peristiwa perkosaan yang menimpa TKI di Malaysia membuat Migrant CARE berang. Organisasi ini mendesak Pemerintah Indonesia pro-aktif dan menuntut Pemerintah Malaysia untuk membubarkan RELA.

Seperti diberitakan Pos Kota (Senin 1/10), TKI diperkosa 12 orang yang diotaki oknum petugas RELA. EW Asal Lampung, disekap di rumah kosong di daerah Muar, Johor.

Sembilan dari 12 pelakunya sudah ditangkap dan kini kasusnya dalam proses hukum.

(sumber: poskota.co.id)

Saluto Fauzi Baadilah

Wednesday, October 3rd, 2007

Tadinya saya gak tahu Fauzi Baadilah itu siapa, tapi sekarang saya boleh merasa kagum. Ternyata ada juga artis yang rela memilih "jalan sulit" dengan tidak berdamai dengan "tikus pemerintah.

Saluto, Bung Fauzi Baadilah. Dan buat kalian semua orang Indonesia yang begitu malasnya hingga "enggan pergi ke pengadilan tilang" sehingga memilih berdamai dengan Polantas, well, kalian ikut merusak bangsa ini!

LNG

Dikira PSK, Istri Fauzi Baadilah Diperas Imigrasi

Wednesday, October 3rd, 2007

Fauzi Baadilah kesal bukan kepalang. Saat hendak mudik ke Uzbekistan, istrinya Senk Lotta dikira PSK dan diperas oleh petugas imigrasi Bandara Soekarno Hatta.

Seharusnya wanita cantik itu meninggalkan Indonesia dengan pesawat Malaysian Airlines pukul 16.10 WIB, Rabu (26/9/2007). Senk bersama Fauzi tiba di bandara sekitar pukul 14.30 WIB.

Tak disangka di bagian imigrasi, Senk Lotta ternyata mendapat masalah. Ia tak membawa surat izin keluar (exit permit). Oleh petugas imigrasi, istri Fauzi diminta membayar denda. Awalnya petugas yang jumlahnya lima orang tersebut meminta antara Rp 700 ribu-1 juta. Namun belakangan, denda dinaikkan menjadi Rp 5 juta.

"Mungkin mereka mikir istri gue pekerja seks komersil dari Uzbekistan. Soalnya pas bilang Uzbekistan, mereka ketawa gitu," cerita Fauzi saat dihubungi detikhot melalui telepon Rabu (26/9/2007) malam.

Merasa diperas, Fauzi dan Senk Lotta pun tak terima. Mereka menolak membayar Rp 5 juta dan Senk Lotta pun gagal pulang ke Uzbekistan untuk menjenguk ibunya.

"Yang pasti sih gue nggak bakal mau nyogok," ujar aktor yang akrab disapa Oji itu.

Bagi Oji, permasalahan yang dihadapinya bukanlah soal uang. Ia sebenarnya bisa saja membayar Rp 5 juta seperti yang diminta. Namun karena berprinsip tak mau nyogok, bintang film 9 Naga itu pun memilih rela istrinya batal pulang kampung.

"Gue kecewa dengan oknum imigrasi. Gue pesan ya, kalau buka puasa jangan pakai uang orang. Buka puasa pakai uang sendiri," ketusnya.