Archive for February, 2008
NLP: Satu Bentuk Pragmatisme
Sunday, February 17th, 2008I think the more you want to become more and more creative you have to not only elicit other peoples’ (plural) strategies and replicate them yourself, but also modify others’ strategies and have a strategy that creates new creativity strategies based on as many wonderful states as you can design for yourself. Therefore, in a way, the entire field of NLP™ is a creative tool, because I wanted to create something new.
(Richard Bandler)
Dalam bahasa sehari-hari Khrisnamurti (I am not sure that this was the right spelling), kala kita berpikir bahwa suatu barang ringan, maka ringanlah dia.
Sebelum kita semua tertawa, mari kita lihat dulu siapa sebenarnya Richard Bandler ini.
Bandler adalah seorang ahli matematika yang bersama John Grinder, seorang ahli bahasa, pada pertengahan 1970-an mulai mengembangkan NLP. Ketertarikan mereka dipicu beberapa hal. Pertama, orang-orang yang sukses. Kedua, psikologi. Ketiga, bahasa. Keempat, pemrograman komputer. NLP jelas bukan satu hal yang mudah didefinisikan. Untuk menjelaskan hal itu pun, bahkan para ahlinya kerap menggunakan satu metafora bahwa NLP merupakan satu peranti lunak bagi otak untuk membuat otak bekerja karena pada dasarnya kita tidak diberikan manual saat diberikan otak oleh Tuhan.
Prinsip-prinsip NLP sangat bergantung pada beberapa hal. Pertama, gagasan tentang pikiran bawah sadar yang secara terus-menerus mempengaruhi pikiran dan tindakan. Kedua, perilaku dan tuturan metaforis, terutama yang dibangun di atas metode-metode yang digunakan Freud dalam interpretasi mimpi. Ketiga, hipnoterapi Milton Erickson. NLP juga dipengaruhi pemikiran-pemikiran Noam Chomsky—dari wilayah linguistik.

Pada dasarnya, NLPmengajarkan pada orang berbagai skill komunikasi dan persuasi dan mengubah serta memotivasi orang dengan menggunakan metode-metode hipnotis-diri. Bhakan beberapa tokoh NLP–seperti juga Khrisnamurti—mengklaim bahwa mereka bisa mengajarkan satu metode yang tak mungkin salah untuk mengetahui ketika seseorang berbohong atau tidak, namun ahli NLP lain menyatakan bahwa itu tidak mungkin dilakukan.
Satu prinsip dasar NLP yang mengandung fallacy yang kental disertai warna metafisika yang kuat adalah bahwa ”jika seseorang bisa melakukan sesuatu, maka orang-orang lain pun akan dapat melakukannya”. Perbedaan antara kita Einsten dan Maradona berarti hanya dipisahkan oleh NLP!
NLP dikatakan sebagai studi struktur pengalaman subyektif, namun fokus perhatian lebih diarahkan pada langkah-langkah pengamatan perilakau dan mengajarkan kepada orang bagaimana cara membaca bahasa tubuh. Padahal, bahasa tubuh merupakan satu hal yang maknanya hanya bisa ditemukan secara kultural dan sosial. Artinya, tidak ada makna inheren dalam satu bahasa tubuh karena tidak ada universalitas di dalamnya.

Selain itu, interpretasi atas bahasa tubuh tersebut pun tidak dapat diverifikasi sehingga sulit untuk dianggap sebagai pengetahuan, apalagi diperlakukan sebagai scintific method. Misalnya, jika saya mengatakan bahwa saat saya melihat seorang gadis tersenyum ke arah saya, saya mengartikan bahwa senyum itu bermakna sang gadis menyukai saya dan pikirannya bekerja memikirkan rasa sukanya. Dari mana saya bisa mengetahui apakah interpretasi itu benar atau tidak? Jika sanga gadis mengonfirmasi interpretasi saya tersebut, dari mana saya bisa tahu bahwa dia menjawab dengan jujur? Ini sama saja dengan kerja seorang dukun yang menyatakan bahwa pada masa lalu saya adalah seorang raja yang hidup di sebuah negeri yang amat kaya raya: Anda tidak bisa menguji apakah itu benar atau tidak.
Dalam banyak perspektif ilmu sosial, klaim-klaim NLP dianggap sebagai metafisik yang tak berdasar. Jika ingin berkomentar lebih sopan, saya akan mengatakan bahwa NLP tidak lebih dari upaya segelintir orang yang sedikit belajar ini-itu untuk memunculkan satu pemikiran ilmiah yang menyerupai spiritualitas dengan mengeksploitasi hasrat orang-orang dan pemikiran mainstream yang berkembang akan gagasan-gagasan voluntaristik yang optimistis. Dalam kalimat pendek, menjajakan NLP sama dengan memproduseri film dan sinetron murahan yang menggambarkan bionic woman dan six million dollar man!
Paradigma voluntaristik yang kental membayangi premis-premis NLP rasanya lebih tepat dimaknai sebagai satu hal yang kemunculannya dipicu oleh semangat agentif yang kental, semangat ubermansch manusia yang lelah menghadapi batasan-batasan alamiahnya. Pada rentang tertentu, ini masuk akal dan dapat ditoleransi, namun jika kita harus menggunakan mantera-mantera ”kapas ringan” untuk mengangkat sebuah truk gandeng, misalnya, ini jelas metafisik alias tahayul.
Klaim-klaim NLP tentang pikiran dan persepsi tidak pernah disertai dukungan dari neuroscience. Klaim-klaim tersebut datang dari sumber yang gelap dan tak terverifikasi serta bersifat metafisik, kurang lebih sama dengan konsep motivasi dalam teori strukturasi Anthony Giddens.
Pembelaan dari NLP bukan tidak ada. Pembelaan utama mereka adalah pengakuan dari para NLPers bahwa metode-metode mereka memang bersifat pragmatis (baca pragmatisme John Dewey). Yang penting berhasil. Pembelaan itu menjadi satu-satunya benteng NLP menghadapi kritik atas tidak validnya klaim-klaim mereka. Tapi, ada satu hal yang membuat saya berpikir. Kalau hanya untuk melakukan hal-hal hebat yang metafisik, masih banyak metode pragmatis lain yang tidak perlu membuat kita menghabiskan puluhan juta rupiah untuk mendapatkannya: jimat banten salah satunya. Iya toh?
Tanpa pemaparan tidakjelas tapi bergaya ilmiah plus lokakarya yang serupa dengan dolanan khas Taman Indria, rasanya kita masih bisa mencapai hal-hal pragmatis dalam hidup secara gempang kok….
What a huge waste of money and time!
Palmerah
Senin Pagi
170208
Kita Para Anjing Pavlov
Sunday, February 17th, 2008“Kita harus lebih maju dan ambisius.” Itu yang diucapkan oleh CEO sebuah korporasi media sebagai pembekalan pada para karyawannya. Manusia yang tidak berpikir tidak akan melihat ada persoalan besar di balik pernyataan itu, tapi siapa pun yang memiliki volume otak cukup besar untuk melakukan penalaran secara kritis pasti akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan: ”Apa yang disebut maju di sini?” dan ”Ambisi apa yang mesti kita tuntaskan?”.
Yang kita lihat di sini sekali lagi merupakan satu bentuk ketidakberdayaan individu terhadap struktur. Kooptasi struktur yang begitu kuat mampu menghegemoni logika kita, sehingga selanjutnya perspektif, motif, drives, dan moda-moda hidup kita dikuasaai secara penuh oleh struktur. Luar biasanya lagi, tak ada unsur koersif yang digunakan atas kita supaya jadi orang-orang yang terhegemoni secara total: lahir dan batin, kognitif dan afektif. Kita yang secara sukarela datang ke lembaga-lembaga pendidikan tinggi dan membayar puluhan juta rupiah hanya untuk diberi tahu bahwa ”kita mesti cukup cerdas untuk bersedia melakukan segalanya demi uang”. Kita juga yang secara sukarela merapkan prinsip-prinsip bahwa kita mesti berpikir realistis dan berpikir realistis berarti menyingkirkan pertimbangan kemanusiaan yang hakiki untuk kemudian melakukan maksimalisasi profit sampai pol! Kita juga yang secara sukarela melakukan presentasi canggih dengan latar belakang pardigma yang akrobatik dari voluntaristik ke deterministik, dari strukturalis ke agensi, dari sini ke situ. Sepenggal informasi dari sini ditambah sepotong dari sana menjadi satu suguhan pembenaran yang cantik, tapi tetap ngawur secara holistik.
Pada saat ini, jika kita bicara soal struktur, tentu kita akan bicara soal kapitalisme global, satu sistem pertama dalam sejarah manusia mampu memberi efek yang dapat menjangkau ke semua pelosok dunia. Kunci keberhasilan sistem ini menjadi penguasa tunggal dunia jelas terjadi sejak ideologi tandingannya, komunisme, runtuh. Namun, senjata utama sistem ini adalah kesuksesannya membekap fungsi-fungsi komunikasi dan sosialisasi di masyarakat, dua di antaranya pendidikan dan pers. Lewat dunia itu kapitalisme global menggurita dan menjelma menjadi logika mayoritas dalam kehidupan kontemporer saat ini.
Dalam kerangka itulah sang CEO berbicara. Yang dimaksud lebih maju dalam konteks dalam kepalanya adalah maksimalisasi profit, apa pun modanya, baik lewat kapitalisasi pasar, ekspansi pasar, maupun penetrasi pasar. Dengan kata lain, yang dikejar di sini adalah duit. Tanpa ragu ia juga mengeluarkan pembelaan-pembelaan dan pembenaran ”khas ilmu aplikatif kapitalisme global yang brutal dan vulgar”: ”Siapa yang menolak duit? Siapa yang tidak mau duit? Anda tidak suka duit?”
Memojokkan publik dengan kebutuhan-kebutuhannya ke satu ruang yang minim akses ke pemenuhan kebutuhan memang satu langkah efektif untuk mematikan potensi berpikir. Saat itu sudah tercapai, berarti kita sudah dalam posisi yang siap untuk mengendalikan publik karena kemampuan berpikir kritis mereka dijamin telah majal. Cuma Antonio Gramsci yang masih mau berpikir dalam gelimang kemiskinan dan dekapan dingin dinding penjara. Cuma Tan Malaka yang masih mau berpikir di sepinya pelarian demi pelarian. Cuma Pramoedya Ananta Toer yang masih bersedia berpikir di antara degilnya benturan-benturan popor di kepalanya, yang merepresentasikan bengisnya kekuasaan. Manusia-manusia lain di sekeliling mereka lebih memilih moda hidup ”yang direstui” dan fokus pada roti dan permainan, sama seperti para karyawan yang fokus pada upaya-upaya memperoleh 6 kali gaji yang maknyus.
Ada reduksi besar-besaran khas kapitalisme global di sini. Reduksi dari manusia menjadi sekadar faktor produksi. Saat seorang pemimpin berkata bahwa kita sebaiknya ”berolahraga saja, tidak berpolitik”, jelas maksudnya adalah ”jadilah faktor produksi yang tidak mempertanyakan kebijakan-kebijakan”. Persis sama dengan strategi depolitisasi zaman Soeharto dulu, bukan?
Dalam manajemen sumber daya manusia diciptakanlah jargon ”rajin malas sama saja” sebagai prinsip yang mesti dihadapi dengan hostile attitude. Diciptakanlah sumber-sumber motivasi eksternal seperti penghargaan 6 kali gaji dan ”employee of the year award". Dibentuklah satu mentalitas dan perasaan komunal yang sarat uniformitas sehingga siapa pun yang mendapat anugerah itu akan bekerja dengan sikap “to die for” tanpa ingatan sedikit pun terhadap keluh- kesahnya di masa lalu.

Manusia dalam konteks ini dirangsang dengan rangsangan eksternal ala behariosm, satu ilmu khas paradigma positivistik yang rajin membuat kesimpulan tentang manusia berdasarkan pola-pola pikir dan kesimpulan yang didapat dari perilaku anjing pavlov.

Premis-premis behaviorism yang digalakkan dalam konteks kapitalisme global yang memuja keserakahan akhirnya tidak memberi ruang bagi cara berpikir alternatif. Dalam situasi yang lebih ekstrem, sistem ini bahkan tidak memberi ruang bagi manusia yang berpikir. Yang dikejar adalah produktivitas. Berbagai potensi pun terpaksa dipinggirkan. Dalam ujung yang seperti ini, satu paradoks besar tercipta: upaya untuk memajukan jadi satu langkah yang mematikan potensi kemajuan itu sendiri. Pikiran-pikiran antitesis yang kerap berada di luar pagar norma umum dan kenormalan dalam sejarah panjang manusia merupakan kontributor utama bagi perkembangan pengetahuan dan kemanusiaan. Ingat, dalam sejarah bukan orang-orang berpikiran mainstream yang mengubah dunia. Bukan hal-hal kecil yang mendatangkan imbalan menggiurkan yang membuat manusia beradab.
Sayang….
Palmerah
Senin Pagi
170208
ps: Anda anjing pavlov? Saya jelas bukan.