Kita Para Anjing Pavlov
“Kita harus lebih maju dan ambisius.” Itu yang diucapkan oleh CEO sebuah korporasi media sebagai pembekalan pada para karyawannya. Manusia yang tidak berpikir tidak akan melihat ada persoalan besar di balik pernyataan itu, tapi siapa pun yang memiliki volume otak cukup besar untuk melakukan penalaran secara kritis pasti akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan: ”Apa yang disebut maju di sini?” dan ”Ambisi apa yang mesti kita tuntaskan?”.
Yang kita lihat di sini sekali lagi merupakan satu bentuk ketidakberdayaan individu terhadap struktur. Kooptasi struktur yang begitu kuat mampu menghegemoni logika kita, sehingga selanjutnya perspektif, motif, drives, dan moda-moda hidup kita dikuasaai secara penuh oleh struktur. Luar biasanya lagi, tak ada unsur koersif yang digunakan atas kita supaya jadi orang-orang yang terhegemoni secara total: lahir dan batin, kognitif dan afektif. Kita yang secara sukarela datang ke lembaga-lembaga pendidikan tinggi dan membayar puluhan juta rupiah hanya untuk diberi tahu bahwa ”kita mesti cukup cerdas untuk bersedia melakukan segalanya demi uang”. Kita juga yang secara sukarela merapkan prinsip-prinsip bahwa kita mesti berpikir realistis dan berpikir realistis berarti menyingkirkan pertimbangan kemanusiaan yang hakiki untuk kemudian melakukan maksimalisasi profit sampai pol! Kita juga yang secara sukarela melakukan presentasi canggih dengan latar belakang pardigma yang akrobatik dari voluntaristik ke deterministik, dari strukturalis ke agensi, dari sini ke situ. Sepenggal informasi dari sini ditambah sepotong dari sana menjadi satu suguhan pembenaran yang cantik, tapi tetap ngawur secara holistik.
Pada saat ini, jika kita bicara soal struktur, tentu kita akan bicara soal kapitalisme global, satu sistem pertama dalam sejarah manusia mampu memberi efek yang dapat menjangkau ke semua pelosok dunia. Kunci keberhasilan sistem ini menjadi penguasa tunggal dunia jelas terjadi sejak ideologi tandingannya, komunisme, runtuh. Namun, senjata utama sistem ini adalah kesuksesannya membekap fungsi-fungsi komunikasi dan sosialisasi di masyarakat, dua di antaranya pendidikan dan pers. Lewat dunia itu kapitalisme global menggurita dan menjelma menjadi logika mayoritas dalam kehidupan kontemporer saat ini.
Dalam kerangka itulah sang CEO berbicara. Yang dimaksud lebih maju dalam konteks dalam kepalanya adalah maksimalisasi profit, apa pun modanya, baik lewat kapitalisasi pasar, ekspansi pasar, maupun penetrasi pasar. Dengan kata lain, yang dikejar di sini adalah duit. Tanpa ragu ia juga mengeluarkan pembelaan-pembelaan dan pembenaran ”khas ilmu aplikatif kapitalisme global yang brutal dan vulgar”: ”Siapa yang menolak duit? Siapa yang tidak mau duit? Anda tidak suka duit?”
Memojokkan publik dengan kebutuhan-kebutuhannya ke satu ruang yang minim akses ke pemenuhan kebutuhan memang satu langkah efektif untuk mematikan potensi berpikir. Saat itu sudah tercapai, berarti kita sudah dalam posisi yang siap untuk mengendalikan publik karena kemampuan berpikir kritis mereka dijamin telah majal. Cuma Antonio Gramsci yang masih mau berpikir dalam gelimang kemiskinan dan dekapan dingin dinding penjara. Cuma Tan Malaka yang masih mau berpikir di sepinya pelarian demi pelarian. Cuma Pramoedya Ananta Toer yang masih bersedia berpikir di antara degilnya benturan-benturan popor di kepalanya, yang merepresentasikan bengisnya kekuasaan. Manusia-manusia lain di sekeliling mereka lebih memilih moda hidup ”yang direstui” dan fokus pada roti dan permainan, sama seperti para karyawan yang fokus pada upaya-upaya memperoleh 6 kali gaji yang maknyus.
Ada reduksi besar-besaran khas kapitalisme global di sini. Reduksi dari manusia menjadi sekadar faktor produksi. Saat seorang pemimpin berkata bahwa kita sebaiknya ”berolahraga saja, tidak berpolitik”, jelas maksudnya adalah ”jadilah faktor produksi yang tidak mempertanyakan kebijakan-kebijakan”. Persis sama dengan strategi depolitisasi zaman Soeharto dulu, bukan?
Dalam manajemen sumber daya manusia diciptakanlah jargon ”rajin malas sama saja” sebagai prinsip yang mesti dihadapi dengan hostile attitude. Diciptakanlah sumber-sumber motivasi eksternal seperti penghargaan 6 kali gaji dan ”employee of the year award". Dibentuklah satu mentalitas dan perasaan komunal yang sarat uniformitas sehingga siapa pun yang mendapat anugerah itu akan bekerja dengan sikap “to die for” tanpa ingatan sedikit pun terhadap keluh- kesahnya di masa lalu.

Manusia dalam konteks ini dirangsang dengan rangsangan eksternal ala behariosm, satu ilmu khas paradigma positivistik yang rajin membuat kesimpulan tentang manusia berdasarkan pola-pola pikir dan kesimpulan yang didapat dari perilaku anjing pavlov.

Premis-premis behaviorism yang digalakkan dalam konteks kapitalisme global yang memuja keserakahan akhirnya tidak memberi ruang bagi cara berpikir alternatif. Dalam situasi yang lebih ekstrem, sistem ini bahkan tidak memberi ruang bagi manusia yang berpikir. Yang dikejar adalah produktivitas. Berbagai potensi pun terpaksa dipinggirkan. Dalam ujung yang seperti ini, satu paradoks besar tercipta: upaya untuk memajukan jadi satu langkah yang mematikan potensi kemajuan itu sendiri. Pikiran-pikiran antitesis yang kerap berada di luar pagar norma umum dan kenormalan dalam sejarah panjang manusia merupakan kontributor utama bagi perkembangan pengetahuan dan kemanusiaan. Ingat, dalam sejarah bukan orang-orang berpikiran mainstream yang mengubah dunia. Bukan hal-hal kecil yang mendatangkan imbalan menggiurkan yang membuat manusia beradab.
Sayang….
Palmerah
Senin Pagi
170208
ps: Anda anjing pavlov? Saya jelas bukan.