Pembelengguan Identitas Individu oleh FIFA
Friday, May 9th, 2008Pemain yang pernah membela timnas senior satu negara tidak boleh membela timnas negara lain. Itu salah satu aturan FIFA yang berlaku secara global.
FIFA adalah satu governing body, lembaga pengatur. Secara hakiki ia merupakan manifestasi kekuasaan yang mendapat legitimasi dan memiliki otoritas. Secara politis, fakta ini merupakan satu bangunan relasi kekuasaan yang wajar. Secara politis lagi, tidak ada yang salah dengan kenyataan ini. Namun, dari kaca mata kemanusiaan, hal yang wajar menurut pragmatisme kekuasaan akan bisa terlihat absurd dan represif.
Identitas dapat dipandang sebagai satu hal yang memiliki banyak bentuk dan wajah. Teori-teori kontemporer soal identitas melihatnya sebagai sesuatu yang cair, dinamis, tidak statis.
Anthony Giddens ”diri” sebagai sesuatu yang dibuat dan dikembangkan, bukan diwariskan, juga bukan sebagai satu hal yang statis secara pasif. Lebih jauh lagi, dalam tatanan masyarakat pascatradisional, identitas-diri menjadi satu proyek reflektif, satu upaya yang terus kita lakukan dan evaluasi. Kita menciptakan, mempertahankan, dan merevisi sekumpulan narasi-narasi biografis–cerita-cerita tentang siapa kita dan bagaimana kita sampai di tempat kita saat ini.
Dengan begitu, identitas-diri adalah kumpulan sifat dan karakteritik yang dapat diamati. Identitas-diri merupakan pemahaman refleksif kita terhadap biografi kita. Identitas-diri memiliki kontinuitas. Artinya identitas diri tidak dapat diubah secara total begitu saja. Namun, kontinuitas itu juga merupakan keyakinan refleksif tentang biografi mereka (Giddens 1991: 53).
Identitas diri, dengan demikian, merupakan satu upaya refleksif personal. Individu menjadi penentu identitas dirinya. Ia yang berhak merasa apa bentuk identitas dirinya, yang terdiri dari begitu banyak unsur, bukan hanya kebangsaan etnisitas, kesukuan, tapi juga warna kulit, potongan rambut, hingga bentuk tubuh. Semua elemen itu membentuk satu entitas yang kita acu sebagai identitas.
Identitas bukan keniscayaan warisan, bukan juga merupakan satu anugerah statis yang mati. Ia dapat diupayakan dan dinegosiasikan. Ruang untuk mengupayakan dan menegosiasikan identitas itu menjadi sangat luas sejak peradaban manusia meninggalkan era tradisionalisme dan mulai menginjak tanah berwarna toleransi khas pascatradisionalisme dan modernisme. Pada era pascamodenisme dan highmodernity saat ini, upaya dan negosiasi identitas menjadi agenda keseharian individual. Meningkatnya insensitas interaksi secara kualitatif dan kuantitatif menempatkan usaha pembentukan dan negosiasi identitas menjadi satu keniscayaan struktural baru.
Dalam kerangka ini, apa yang dilakukan FIFA tampak seperti pedang Cossack abad pertengahan di butik Versace di Jakarta. Aroma kekunoan yang kental tak dapat disingkirkan dari kebijakan tersebut. Saat umat manusia sudah mengayun jutaan langkah peradaban, peraturan FIFA masih mendiami gedung semangat abad pertengahan.
Pengaturan permainan sepakbola, yang bagaimana pun agungnya tetap merupakan permainan, tidak pantas dilakukan jika mesti menabrak tembok kemanusiaan yang telah ratusan tahun dibangun. Melarang secara koersif satu individu untuk tidak mengupayakan dan menegosiasikan identitasnya jelas merupakan manisfestasi kekuasaan koersif yang memasuki wilayah kebebasan individu. Jika satu individu yang pada satu momen dalam hidupnya merasa bahwa ia adalah orang Brasil, pada saat lain ia berhak merasa bahwa ia bukan orang Brasil lagi. Elemen internasionalisasi dan the end of nation state khas pascamodern dan latemodernity yang berjalan searah dengan kemanusiaan universal tidak seharusnya dipagari oleh satu regulasi permainan, seberapa pun mendunianya permainan itu.
Apalagi jika selama ini langkah-langkah dan manuver FIFA lebih terlihat sebagai satu badan pengatur yang secara koersif beroperasi di bawah logika profit-oriented. Pembelengguan upaya dan negosiasi identitas individu mesti dilihat sebagai kesemena-menaan yang tidak manusiawi dan bisa dicurigai sebagai usaha untuk meraup untung secara maksimal.
Menerima regulasi itu sebagai kewajaran jelas absurd dan bodoh.
Palmerah
Jumat, 9 Mei 2008
22.36