POLISI BOGOR!

October 3rd, 2007 by alsujanto

3. Polisi (Pak Ogah Lebih Berisi)

Mungkin judul di atas terlalu panas bila didengar oleh para aparat kepolisian kita. Tetapi bagi saya judul tersebut kurang lebih dapat mewakili arti polisi, khususnya polisi lalu lintas. Sepertinya polisi di negara kita ini sebagian besar sangat bangga dan bahkan ingin menjadi anggota polantas. Sudah menjadi rahasia umum kalau polantas di negeri kita ini ‘mata duitan’. Di kota manapun, kita bisa menjadi ‘korban’ ‘keganasan’ mereka.

Saya pernah merasakan betapa para polantas selalu mencaro-cari kesalahan para pengguna jalan raya, khususnya para pengendara sepeda motor. Di Bandung, Bekasi, dan beberapa kota lainnya, saya pernah terkena ’tilang’. Kesalahan saya waktu itu sebagian besar karena salah berbelok, dan pernah karena tidak membawa SIM.

Peristiwa yang sangat menakutkan terjadi pada tahun 1997 ketika saya masih duduk di SMA . Kala itu saya dalam perjalanan pulang ke rumah bersama seorang teman. Kecepatan motor saya waktu itu kira-kira 70-80 km/jam, ya lumayan cepat karena saya ingin sampai rumah agar tidak ketinggalan untuk menunaikan ibadah sholat jum’at. Alangkah kagetnya, ketika di sebuah belokan ada dua orang polisi, salah seorang di antaranya menuju ke tengah-tengah jalan dan memasang kuda-kuda seraya menodongkan pistolnya ke arah kami. Saya pun menghentikan kendaraan dan dihampiri polisi. Kesalahan saya waktu itu saya tidak membawa SIM. Kedua polisi itu tidak menawarkan surat tilang, melainkan langsung mengajak ‘damai’. Uang saya yang tinggal 20 ribu diambilnya, padahal itulah sisa uang yang ada di dompet. Saya meminta dikembalikan setengahnya, tetapi tidak diberikan. Apakah begini cara kerja polantas kita? Bukankah mereka seharusnya mengayomi dan melindungi masyarakat? Haruskah si oknum tersebut menodongkan pistolnya?
Setahu saya, polantas Bogor itu memang paling ‘matre’ di antara kota-kota lainnya di Indonesia. Masih banyak cerita miring mengenai polisi Bogor yang pernah saya alami, bukan hanya polantas-nya.

Maaf, saya tidak bermaksud untuk sekedar ‘curhat’. Tetapi inilah pengalaman saya atas perlakuan polantas yang ’sombong’. Untuk para aparat kepolisian, khususnya di Bogor, maafkan atas kejujuran saya ini.
Semoga aparat kepolisian kita dapat lebih menghargai masyarakat, karena tugas utama mereka adalah mengayomi dan melindungi warga. Bukankah begitu?

(sumber: http://www.pintunet.com/lihat_opini.php?pg=2006/04/04042006/38085)

POLISI BOGOR!

October 3rd, 2007 by alsujanto

2.Denda Damai Motor Modifikasi

Kejadian yang saya alami menambah daftar kebobrokan citra polisi wilayah Bogor, Jawa Barat, yang memang terkenal sangat "ganas" kepada pengendara sepeda motor yang berpelat B (Jakarta). Ironisnya ini terjadi saat saya akan merayakan Hari Kemerdekaan di kampung halaman, Bogor.

Ketika melintasi pos polisi Ciawi, Bogor, tiba-tiba seorang polisi lalu lintas keluar dari balik pohon dan menyetop sepeda motor saya, dengan cara merentangkan kedua tangan. Ketika saya bertanya apa kesalahan saya, dengan bangga dia menjawab bahwa saya telah bersalah karena telah memodifikasi sepeda motor. Padahal surat-surat, tutup pentil, dan kaca spion lengkap. Modifikasi sepeda motor yang saya lakukan pun tidak mengubah warna pabrik.

Polisi lalu lintas berinisial DA itu menyuruh saya membayar sebesar Rp 300.000 atau sepeda motor saya akan dikandangkan. Setelah tawar-menawar harga, akhirnya saya membayar uang denda damai sebesar Rp 200.000. Sambil mengucapkan sumpah serapah, saya meninggalkan pos polisi tersebut. Padahal di depan kantor pos polisi tersebut terpampang dengan jelas tulisan, "Mengayomi dan Melindungi Masyarakat".

Kepada para bikers dari Jakarta yang ingin berlibur ke daerah Bogor/Puncak harap berhati-hati. Atau alangkah baiknya membawa uang sebanyak-banyaknya untuk membayar denda damai agar sepeda motor tidak ditahan. Zahra Kota Bambu RT 004 RW 001, Palmerah, Jakarta

(sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/21/opini/3857486.htm)

POLISI BOGOR!

October 3rd, 2007 by alsujanto

1. Polisi Mesum Pencabut Nyawa

Nia Sari tewas sia-sia di tangan polisi brengsek. Padahal, Nia tak melanggar hukum. Dia bukan penjahat, juga bukan teroris. Nia hanya gadis remaja yang lugu. Usianya baru 15 tahun. Satu-satunya "dosanya" terhadap si biadab –begitu belakangan warga menjuluki polisi itu– adalah menolak diajak berbuat mesum.

Akibatnya, Brigadir Kepala Suwandi, polisi yang sudah tak kuasa menahan gelora syahwatnya itu, jadi kesal berat. Lebih-lebih, Nia berusaha lari dan mengancam akan melapor ke atasan Suwandi. Suwandi pun mengacungkan pistol ke arah kepala Nia. "Kutembak kau!" bentaknya.

Ternyata ia benar-benar menarik pelatuk pistol. Dor! Di tempat sepi tengah malam, Senin pekan lalu, itu Nia tersungkur. Sebutir peluru menembus bagian belakang kepala dan bersarang di pelipis kirinya. Diperkirakan gadis malang itu tewas seketika.

Suwandi menyeret mayatnya sejauh lima meter ke semak-semak. Kemudian anggota Kepolisian Resor (Polres) Bogor, Jawa Barat, itu menyalakan motornya. Sempat mampir ke Polres, Suwandi kemudian pulang ke rumah. Kepada sang istri, ayah dua anak itu dengan tenang menyatakan bahwa ia pulang agak telat karena habis tugas malam.

Seolah tak pernah terjadi apa-apa, dia kemudian tidur pulas hingga pagi hari. Bangun tidur, Suwandi kembali ngantor. Ia masih tenang-tenang saja. Atasan dan sejawatnya belum mengetahui laku biadab Suwandi. Bahkan, ketika warga menemukan mayat korban pada pagi itu, polisi sempat mengira korban tewas di tangan perampok.

Warga menemukan mayat Nia pada Selasa pagi, telentang di semak-semak di belakang kantor Desa Tengah, Cibinong, Bogor. Kepalanya digenangi darah kental. Baju kaus dan kutangnya tersingkap. Kancing dan risleting celana jinsnya terbuka.

Warga melaporkan penemuan itu ke polisi. Dari pengusutan polisi ketahuanlah pelakunya Brigadir Suwandi. Nah, Suwandi pun lantas mengarang cerita. Katanya, dia terpaksa menembak karena mengira korban akan merampas sepeda motor Yamaha Vega-R miliknya.

Suwandi bilang, di malam nahas itu Nia berjalan-jalan bersama pemuda tetangganya, Nasih Alwali alias Dede. Mereka mengendarai sepeda motor Suzuki Thunder. Tak jauh dari Polres Bogor, motor tersebut mogok kehabisan bensin. Suwandi sempat mengantar Dede ke pangkalan ojek guna diantar mencari bensin.

Setelah itu, Suwandi balik ke tempat Nia yang menunggu motor Suzuki. Suwandi mengajak Nia muter-muter, katanya, untuk mencari bensin. Eh, tak tahunya Nia diajak ke tempat sepi di belakang kantor Desa Tengah. Nia manut saja karena mungkin merasa aman bersama polisi. Atau mungkin saja Nia segan menolak karena Suwandi polisi.

Tiba di situ, telepon seluler Suwandi berdering. Pada saat bertelepon itulah, kata Suwandi, Nia mengambil alih kemudi motor dan tancap gas. Suwandi berteriak, mencoba menghentikan Nia. Tapi, katanya pula, Nia tetap kabur. "Saya langsung menembaknya karena panik." Begitulah awalnya pengakuan Suwandi kepada atasannya.

Sulit dipercaya, oknum polisi satu ini enteng saja mengarang cerita dan memutarbalikkan fakta. Bagaimana mungkin seorang gadis belia berani merampas motor polisi? Katakanlah Nia memang hendak merampas, kenapa sampai harus ditembak kepalanya? Tidakkah bisa dilumpuhkan tanpa harus membunuh?

Kalaupun Nia benar penjahat seperti dituduhkan, sepatutnya pulalah Suwandi segera melaporkan penembakan itu kepada atasan. Dan Suwandi bersama pihak kepolisian haruslah secara resmi mengurus jenazahnya, bukan malah menyembunyikannya di semak.

Celakanya pula, ocehan yang sama sekali tak masuk di akal itu, apalagi di akal polisi yang sudah banyak makan asam garam, sempat dipercaya sejawat dan atasannya. Celotehan kosong itulah yang kemudian dipaparkan Kepala Polres Bogor, Ajun Komisaris Besar Arief Ontowiryo, kepada wartawan, Rabu pekan lalu.

Menurut Arief, ketika Suwandi menerima telepon, korban mengambil alih kemudi motor. "Karena panik, Sw (Suwandi) mengarahkan pistol ke korban, dan tembakannya mengenai kepala korban," kata Kapolres pada waktu itu.

Keruan saja, pernyataan resmi polisi ini –yang terkesan asal membela korps secara membuta– mendapat reaksi keras. Keluarga korban tak bisa menerima pengakuan Suwandi. Sebab, menurut mereka, jangankan merampas sepeda motor –apalagi motor polisi– mengendarai motor saja Nia tak bisa.

"Itu fitnah, sangat menyakitkan kami," kata Mahmudin, kakak kandung Nia. Ibu korban, Ny. Sani, sangat terpukul. Ia shock mendapat kenyataan putrinya terbunuh, dituduh pula sebagai perampok. "Pokoknya, saya tidak terima apa yang dikemukakan polisi," teriak Ny. Sani sesenggukan, lalu pingsan beberapa kali.

Keluarga korban juga menepis tudingan polisi bahwa korban bersama Dede berkomplot untuk menggasak motor Suwandi. Mereka mengatakan, sungguh membutuhkan nyali luar biasa besar bagi sepasang remaja untuk merampas motor milik polisi dengan modus mogok di kantor polisi. Apalagi, kedua remaja itu tak punya catatan kriminal.

Masyarakat pun, terutama di lingkungan tempat tinggal korban di Kampung Citayam, Kecamatan Bojong Gede, Bogor, menolak cerita versi polisi itu. Pengamat hukum dan anggota dewan juga bereaksi. Indonesia Police Watch (IPW), lembaga swadaya yang getol menyoroti polisi, turut mengecam keras.

"Logikanya, nggak mungkinlah korban berani. Itu hanya karangan polisi untuk menjaga nama baik korps. Pembelaan asal-asalan ini justru bisa merusak citra polisi," kata Ketua Presidium IPW, Neta S. Pane, kepada Gatra. Ia ketika itu meminta petinggi polisi mengusut tuntas kasus tersebut.

Syukurlah, reaksi-reaksi keras itu mendapat perhatian petinggi polisi. Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat, Inspektur Jenderal Soenarko Danu Ardanto, bergegas menurunkan dua tim ke Polres Bogor untuk mengusut kasut tersebut.

Tim pertama di bawah koordinasi Kabid Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Jawa Barat, Komisaris Besar (Kombes) Adri Widuhung, serta Direktur Intelijen dan Keamanan Polda Jawa Barat, Kombes Slamet Sopandi. Tim ini fokus terhadap pelanggaran profesi yang dilakukan tersangka.

Adapun tim kedua di bawah koordinasi Direktur Reserse dan Kriminal Polda Jawa Barat, Kombes Tatang Somantri. Tim kedua ini khusus menangani tindakan pelanggaran pidana yang diduga dilakukan tersangka. Syukur pula, kedua tim ini bekerja profesional.

Upaya Suwandi mengaburkan kasus pembunuhan itu pun terungkap sudah. Keterangan awal Suwandi terpatahkan semuanya. Anggota Intelijen dan Keamanan Polres Bogor itu akhirnya mengakui bahwa ia membunuh korban karena takut perbuatannya dilaporkan korban ke komandan.

Suwandi mengaku mencoba berbuat tak senonoh terhadap korban. Namun, karena korban melawan, "Oknum anggota Polri ini mengaku panik," kata Sunarko. Kepanikan ini membuat Suwandi mencoba membungkam korban dengan cara kelewatan: menembak kepalanya.

Hasil pengusutan yang menggembirakan ini dipaparkan Kapolres Arief Ontowiryo kepada pers di Polres Bogor, Jumat pekan lalu. Suwandi pun ditahan. Kapolres mengakui, sebelumnya ia terlalu terburu-buru mempercayai cerita bohong yang dikarang Suwandi. "Sekarang (Suwandi) sedang diperiksa intensif," kata Arief.

***

Mungkin sudah takdir Nia Sari harus meninggal ditembak polisi di usia belia. Di malam nahas itu, Nia kumpul di rumah teman yang juga tetangganya, Fitrah. Sedianya, dari situ mereka pergi ke tempat pengajian. Tapi acara pengajian batal. Nia pun pulang, diantar Dede, kakak Fitrah, mengendarai Suzuki Thunder.

Seharusnya Nia benar-benar pulang ke rumah. Tapi tiba-tiba saja ia ingin jalan-jalan dulu ke kota Bogor. Padahal, hari sudah malam. Dede tak keberatan. Mereka pun raun-raun sejenak di sudut-sudut "kota hujan" itu. Apes, bensin habis.

Motor pun mogok tak jauh dari Polres Bogor. Sepasang anak muda ini mendorong motor hingga berpeluh. Menjelang di seberang Polres Bogor, keduanya beristirahat sejenak. Dede tak waswas karena mengira, mogok di depan kantor polisi pastilah aman.

Ternyata pikiran lajang 19 tahun itu salah besar. Mereka memang aman dari penjahat sipil. Tapi bencana justru datang dari oknum polisi anggota Polres Bogor, Suwandi. Lulusan Sekolah Polisi Negara tahun 2000 ini kebetulan melintas, hendak ke Polres. Suwandi melambatkan laju Yamaha Vega-R warna hitam yang ditungganginya.

Dede menyetopnya dan minta diantar mencari bensin. "Saya kira tukang ojek," tutur Dede. Suwandi tak keberatan. Menurut Dede, ia menangkap kesan, pada waktu itu Suwandi sudah kesengsem terhadap Nia. Maklum, bunga Kampung Citayam ini cantik, menarik, dan berkulit mulus.

Agak waswas, Dede meninggalkan sepeda motornya dan Nia. Waktu menjelang pukul 22.30. Suwandi mengantarkan Dede ke pangkalan ojek, dan menyuruhnya mencari bensin dengan naik ojek di pangkalan tersebut. Dari tukang ojek beneran, Dede baru tahu bahwa yang mengantarnya barusan itu anggota intel polisi.

Setelah memperoleh bensin, Dede kembali ke depan kantor Polres Bogor. Motornya memang masih ada, bergeser ke depan Polres. Namun Nia sudah raib. Seketika Dede panik. Berkali-kali ia menghubungi telepon seluler Nia. Tapi tak ada jawaban. Boleh jadi, pada saat itu Nia sudah tewas atau masih tak berkutik di bawah "penguasaan" Suwandi.

Dede pun berputar-putar mencari Nia sampai dini hari. Tapi tetap nihil. Dia kemudian memacu motornya ke rumah Nia, mengecek keberadaan gadis itu. Ternyata korban belum pulang. Kepada keluarga korban, Dede menceritakan semuanya, termasuk soal sosok Suwandi. Keluarga Nia pun panik.

Paginya, warga Desa Tengah digegerkan dengan penemuan mayat Nia dengan luka tembak di kepala. Polisi yang dilapori segera meluncur ke TKP (tempat kejadian perkara). Kabar ini pun tersiar sampai ke Citayam. Ketika disebutkan ciri-cirinya, "Saya mau pingsan mendengar kabar itu," tutur Oman, ayah Dede, kepada Gatra.

Sani, Ibu Nia, langsung pingsan. Setelah siuman, Sani bersama Oman dan tetangganya pergi ke RS PMI Bogor guna menengok mayat Nia. Sedangkan Dede bersama Medi, tukang ojek yang mengantarnya membeli bensin, dimintai keterangan di kantor polisi.

Dari keterangan Dede dan si ojek, polisi mengantongi nama Suwandi yang diduga berada di balik kematian korban. Kepada penyidik, seperti telah dijelaskan di bagian awal, Suwandi mengaku menembak karena Nia hendak merampas motornya.

Sebelumnya, Suwandi juga berbohong kepada Sani, ibu korban, dengan mengatakan tak tahu perihal keberadaan Nia. Pagi itu, Sani sempat ke rumah Suwandi di asrama polisi di Cibinong, Bogor. Sani yang janda ini ditemani keluarga Dede dan Medi yang tahu rumah Suwandi, bermaksud menanyakan soal Nia.

Suwandi pada waktu itu masih tidur. Kedatangan mereka disambut istri Suwandi, Nani Suryani. Kepada tamunya, Nani menjelaskan bahwa suaminya masih pulas, kecapekan habis tugas malam. Toh, Suwandi akhirnya dibangunkan juga. Kepada Sani, Suwandi mengaku tak tahu mengenai keberadaan Nia.

Kata Suwandi, setelah mengantar Dede ke pangkalan ojek, ia langsung ke kantor Polres, kemudian pulang ke rumah. "Saya tak ketemu dia (Nia) lagi, tapi saya berusaha membantu mencarinya," kata polisi berbadan tegap itu, seperti dituturkan keluarga Dede kepada Gatra.

Siangnya, Oman menelepon Suwandi, mengabarkan penemuan mayat Nia. "Nia sudah ditemukan, tapi sudah meninggal dibunuh. Tolong, Pak, dibantu mencari pelakunya," ucap Oman di telepon. Suwandi berlagak ikut sedih dan berjanji akan berusaha menangkap pelakunya.

Padahal, pelakunya tak lain Suwandi sendiri. Pengakuan Suwandi kepada penyidik, sepulang mengantar Dede ke pangkalan ojek, ia kemudian menemui Nia. Benarlah kesan Dede, Suwandi rupanya tergiur kecantikan dan kemolekan Nia. Suwandi mengajak Nia untuk mencari bensin pula.

Awalnya Nia menolak. Tapi, setelah dirayu terus, gadis itu akhirnya mau juga. Di perjalanan, Suwandi mendapat telepon dari Brigadir Enteng, rekannya yang sedang piket di Polres Bogor. Suwandi memarkir motornya di penggalan Jalan K.S.R. Dadi Kusmayadi. Suasana di tepi kantor Desa Tengah itu gelap dan sepi. Tak ada penerangan jalan.

Enteng memintanya agar segera ke Polres. "Sebentar, saya lagi nyari bensin bersama teman," Suwandi menanggapi. Setelah bertelepon, kata Suwandi, ia meminta Nia menyetir motor. Atau, boleh jadi, Suwandi memaksa Nia untuk diajari nyetir motor. Dalam takutnya, Nia tak berani menolak.

Maka, Suwandi yang duduk di belakang enak saja meraba-raba dan memeluk tubuh Nia. Gadis yang bercita-cita menjadi bintang sinetron itu tersentak dan menolak secara halus. "Pak, jangan macam-macam, ah. Nanti saya laporkan ke atasan, lho," kata Nia, seperti dituturkan Suwandi kepada penyidik.

Suwandi tak peduli. Ia terus menggerayangi perut dan dada Nia. "Ayolah, sebentar saja," bisik Suwandi, penuh nafsu. Nia berontak keras sampai terjatuh dari motor. Gadis yang baru tamat SMP itu berusaha bangun dan melarikan diri. Pada saat itulah, masih menurut Suwandi, ia panik dan menembak Nia.

Menilik kepanikan itu, boleh jadi Suwandi sempat menodai korban. Sebab, kalau sekadar meraba-raba, kenapa begitu takut dilaporkan ke atasannya oleh korban? Tapi, soal dugaan memerkosa ini masih remang. Kapolda Sunarko dan Kapolres Arief hanya menyebut "berbuat tak senonoh".

Sedangkan hasil otopsi korban belum diketahui. Yang pasti, kelakuan Suwandi sangat mengejutkan sejawatnya. "Saya tak menyangka ia berbuat begitu," ujar seorang sejawatnya di Polres Bogor, yang mengaku mengenal Suwandi sebagai sosok yang supel dan bereputasi cukup baik.

Nani, istri Suwandi, sampai shock. Selama tujuh tahun berumah tangga, Nani mengenal Suwandi sebagai suami yang baik. Kapolda Sunarko menyesalkan laku anak buahnya yang mencoreng citra polisi itu. "Saya prihatin dengan kejadian itu dan memohon maaf kepada keluarga korban," kata Sunarko.

Ia berjanji akan memproses Suwandi secara transparan. "Tentunya akan diganjar hukuman setimpal, baik dari institusi maupun peradilan umum," ujar Sunarko. Ketua Presidum IPW, Neta Pane, menilai permintaan maaf tak cukup oleh Kapolda saja. "Kapolri juga harus minta maaf secara terbuka kepada keluarga korban, karena kasus ini dapat dikategorikan pelanggaran HAM berat," katanya.

Neta juga mendesak agar Kapolres Arief Ontowiryo mengundurkan diri. Arief dinilainya tidak bersikap arif dan tidak mampu menganalisis persoalan yang melibatkan anak buahnya. "Seharusnya sedari awal ia sudah tahu bahwa cerita Suwandi yang pertama itu bohong besar karena tak masuk akal sama sekali," ucap Neta.

Toh, ia cukup menghargai sikap polisi yang akan memproses Suwandi secara transparan. "Memang harus begitu. Citra polri dapat dijaga dengan cara-cara yang realistis, bukan dengan cara membela anak buah secara membuta," kata Neta. Iya tuh!

Taufik Alwie, Deni Muliya Barus, Anthony, dan Wisnu Wage Pamungkas (Bandung)
[Hukum, Gatra Nomor 43 Beredar Kamis 6 September 2007]

(sumber: http://www.gatra.com/2007-09-11/artikel.php?id=107574)

October 3rd, 2007 by alsujanto

Kalau saya jadi orang Malaysia, saya akan malu pada diri saya sendiri karena saya ternyata berasal dari negara biadab. Yup, Malaysians, ypu’re more advanced than us Indonesians, but you’re definitely not more than a bunch of savage people….

Kasus TKI Diperkosa Di Malaysia, Indonesia Ajukan Protes

JAKARTA (Pos Kota) – Kasus perkosaan menimpa TKI berinisial EW asal Lampung, menurut Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno sudah ditangani tuntas oleh KBRI di Malaysia.

“Karena itu bagian dari kriminal, maka kasusnya sudah dilaporkan dan ditangani Kepolisian Malaysia,” kata Erman usai membagikan bantuan sembako pada 1.200 warga dari Jaringan Rakyat Miskin Kota di Kalibata, Selasa.

Erman juga menyayangkan tindakan pasukan RELA Malaysia yang memperlakukan TKI tidak senonoh. Menurutnya, ia telah memerintahkan atase tenaga kerja di Malaysia untuk mengajukan protes.

“Kita akan mengajukan protes, tapi karena itu perkara pidana biar kasusnya diselesaikan secara hukum yang berlaku dinegara tersebut,” ujarnya.

Tentang permasalahan yang menimpa TKI di luar negeri, Erman menjelaskan pemerintah Indonesia, Malaysia dan Arab Saudi siap membentuk tim khusus dalam satu atap pelayanan di negeri tempatan tersebut.

“Duta besar kedua negara tersebut sudah dipanggil dan keduanya menyatakan siap. Tapi yang paling utama adalah bagaimana pemerintah negara penempatan ikut bertanggung jawab terhadap majikan yang menggunakan tki,” ujarnya.

Misalnya, majikan berbuat jahat harus ditindak setimpal sesuai perbuatannya dan itu sudah disanggupi. Terbukti, pemerinath arab saudi telah mengeluarkan peraturan ketenagakerjaan baru bagi majikan yang mempekerjakan tenaga kerja ilegal.

MINTA BUBARKAN

Peristiwa perkosaan yang menimpa TKI di Malaysia membuat Migrant CARE berang. Organisasi ini mendesak Pemerintah Indonesia pro-aktif dan menuntut Pemerintah Malaysia untuk membubarkan RELA.

Seperti diberitakan Pos Kota (Senin 1/10), TKI diperkosa 12 orang yang diotaki oknum petugas RELA. EW Asal Lampung, disekap di rumah kosong di daerah Muar, Johor.

Sembilan dari 12 pelakunya sudah ditangkap dan kini kasusnya dalam proses hukum.

(sumber: poskota.co.id)

Saluto Fauzi Baadilah

October 3rd, 2007 by alsujanto

Tadinya saya gak tahu Fauzi Baadilah itu siapa, tapi sekarang saya boleh merasa kagum. Ternyata ada juga artis yang rela memilih "jalan sulit" dengan tidak berdamai dengan "tikus pemerintah.

Saluto, Bung Fauzi Baadilah. Dan buat kalian semua orang Indonesia yang begitu malasnya hingga "enggan pergi ke pengadilan tilang" sehingga memilih berdamai dengan Polantas, well, kalian ikut merusak bangsa ini!

LNG

Dikira PSK, Istri Fauzi Baadilah Diperas Imigrasi

October 3rd, 2007 by alsujanto

Fauzi Baadilah kesal bukan kepalang. Saat hendak mudik ke Uzbekistan, istrinya Senk Lotta dikira PSK dan diperas oleh petugas imigrasi Bandara Soekarno Hatta.

Seharusnya wanita cantik itu meninggalkan Indonesia dengan pesawat Malaysian Airlines pukul 16.10 WIB, Rabu (26/9/2007). Senk bersama Fauzi tiba di bandara sekitar pukul 14.30 WIB.

Tak disangka di bagian imigrasi, Senk Lotta ternyata mendapat masalah. Ia tak membawa surat izin keluar (exit permit). Oleh petugas imigrasi, istri Fauzi diminta membayar denda. Awalnya petugas yang jumlahnya lima orang tersebut meminta antara Rp 700 ribu-1 juta. Namun belakangan, denda dinaikkan menjadi Rp 5 juta.

"Mungkin mereka mikir istri gue pekerja seks komersil dari Uzbekistan. Soalnya pas bilang Uzbekistan, mereka ketawa gitu," cerita Fauzi saat dihubungi detikhot melalui telepon Rabu (26/9/2007) malam.

Merasa diperas, Fauzi dan Senk Lotta pun tak terima. Mereka menolak membayar Rp 5 juta dan Senk Lotta pun gagal pulang ke Uzbekistan untuk menjenguk ibunya.

"Yang pasti sih gue nggak bakal mau nyogok," ujar aktor yang akrab disapa Oji itu.

Bagi Oji, permasalahan yang dihadapinya bukanlah soal uang. Ia sebenarnya bisa saja membayar Rp 5 juta seperti yang diminta. Namun karena berprinsip tak mau nyogok, bintang film 9 Naga itu pun memilih rela istrinya batal pulang kampung.

"Gue kecewa dengan oknum imigrasi. Gue pesan ya, kalau buka puasa jangan pakai uang orang. Buka puasa pakai uang sendiri," ketusnya.

Mengapa Meonopoli Media Berbahaya

September 5th, 2007 by alsujanto

Yang bilang monopoli media wajar jelas masih mesti banyak belajar dan baca….

Media Monopoly: Long History,Short Memories
ABC Was Born Out of Fear of Media Consolidation

By Jim Naureckas

What’s wrong with media mergers? A look at the history of ABC–the network that the Walt Disney Company is in the process of swallowing up–illustrates nearly every argument against consolidation of media ownership.

ABC can trace its origins back to 1919, when RCA, the Radio Corporation of America, was created by a consortium of General Electric, Westinghouse, AT&T and United Fruit. RCA and its allies controlled the patents for radio, and had a virtual monopoly until the alliance was declared to violate antitrust laws in 1932.

In the meantime, RCA had launched the National Broadcasting Company (NBC) which controlled two radio networks known as the Red and Blue networks. In order to reduce NBC’s overwhelming dominance of the broadcasting industry–which threatened to monopolize the embryonic television medium–the Federal Communications Commission ordered NBC to sell one of its networks. In 1943, the Blue network was sold for $8 million to Edward J. Noble–the conservative businessman who invented Life Savers–and became the American Broadcasting Company (ABC).

In 1953, the ABC TV network, struggling in third place behind NBC and CBS, merged with the Paramount theater chain–itself a product of antitrust actions that separated the movie studios from their theater chains. The breakups in the film industry were necessary, according to the Justice Department, because if the producers of a media product like film also controlled the distribution of that product, then the public would be denied the free access to competing ideas envisioned by the First Amendment.

The ABC/Paramount Theaters merger raised similar objections–two FCC commissioners voted against approving the merger, saying that it threatened to create a "monopolistic multimedia economic power." (Networks of Power, Dennis Mazzacco)

More successful protests were launched in 1966, when ITT, a multinational powerhouse and major military contractor, attempted a friendly takeover of ABC. Critics charged that ITT–which had financial interests in some 118 companies–would be tempted to slant the news to assist its international dealings. "A company whose daily activities require it to manipulate governments at the highest level is likely to be left with little more regard for a free and independent press…than for conscientious government officials," three of the seven FCC commissioners charged (Tube of Plenty, Erik Barnouw).

Nevertheless, a majority of the FCC board approved the merger, arguing that ITT owning ABC would be no different than the RCA conglomerate owning NBC. Commissioner Nicholas Johnson retorted: "To say that because RCA owned NBC, ITT must be allowed to acquire ABC, is to say that things are so bad there is no point in doing anything to stop them from getting worse." (Tube of Plenty)

Despite FCC approval, the Johnson administration’s Justice Department asked the U.S. Court of Appeals to block the takeover to protect ABC’s journalistic independence. Faced with protracted litigation, ITT withdrew.

But a very different Justice Department existed in 1985, when ABC was bought for $3.5 billion by Capital Cities, a media company with a somewhat mysterious past–then-CIA Director William Casey was one of its founding investors. (Casey, in fact, may have actually held down the price of ABC stock at the time Cap Cities was acquiring it, by asking the FCC to strip ABC of its broadcast licenses in retaliation for negative reporting on the CIA–L.A. Weekly, 2/20/87).

The way for the Cap Cities takeover was paved by the deregulation drive of the Reagan era. While networks could previously own only seven stations, under Reagan that number was raised to 12–allowing Cap Cities to combine the ABC affiliates it owned with ABC’s owned-and-operated stations. (ABC News contributed to Reagan’s re-election in 1984 by censoring several reports exposing administration corruption–Mother Jones, 11-12/85.)

Under Cap Cities’ management, ABC–like the other two networks, which also changed hands in the ’80s–was under heavy pressure to cut costs and make its news operations profitable.

Kerusuhan Suporter

September 4th, 2007 by alsujanto

Kenapa keributan antarsuporter begitu marak, perkelahian antarpemain jadi trendi, bahkan menimpuki pemain yang kita dukung pun merupakan merebak? Jangan bilang karena kita dasarnya tak tahu aturan. Penjelasan itu tak benar sama sekali.

Budaya adalah titik tolak banyak hal. Secara lebih spesifik, kita di sini bicara soal norma dan nilai, dua hal yang menjadi dasar pembentukan kode moral sebuah budaya, sistem-sistem simbol di mana perilaku diberi label “ baik”, “buruk”, “benar”, atau “salah”. Dengan begitu, satu perilaku hanya disebut sebagai penyimpangan (deviance) atau normal jika kita mengetahui siapa pelakunya dan dalam konteks sosial atau budaya apakah dia bertindak.

Secara sosiologis, perilaku normal adalah perilaku yang mengonformasi aturan dan norma kelompok di mana satu perilaku terjadi. Di sisi lain, penyimpangan (deviant behavior) adalah perilaku yang gagal melakukan konformasi terhadap aturan dan norma kelompok (Durkheim, 1960). Karena kode moral sangat beraneka di antara satu kelompok dengan kelompok lain, kita mesti memahami kode moral kelompok asal pelaku satu perilaku. Pun begitu jika kita ingin mencari solusi tepat yang dapat menghentikan perilaku tersebut tidak terjadi lagi. Tanpa memahami kode moral yang menjadi konteks sosial dan budaya pelaku satu tindakan penyimpangan, upaya mencari sosial dapat dianggap tidak mungkin berhasil.

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam rangka menghentikan perilaku menyimpang atau deviant behavior ini. Satu yang paling populer adalah mekanisme kontrol sosial, yang terdiri atas bagian: alat kontrol internal dan alat kontrol eksternal.

Dalam kontrol internal, hal pertama yang mesti ada adalah proses sosialisasi terhadap norma dan nilai, yang selanjutnya merupakan sosialisasi terhadap kode moral. Selanjutnya, sebagai akibat dari proses sosialisasi itu, kode moral satu kelompok mesti terinternalisasi, menjadi satu bagian dari kehidupan emosional dan kognitif individu sehingga jika ia melakukan satu deviance, ia akan mengalami berbagai konflik emosi seperti rasa bersalah, perasaan tidak nyaman, ketegangan, kegelisahan, hingga satu gejala yang disebut sebagai self-depreciation.

Dalam kontrol eksternal, satu elemen yang penting adalah sanctions. Sanctions bisa positif dan negatif. Dalam pengejawantahannya, sanctions ini kerap disebut punishment (hukuman) jika negatif dan reward (imbalan) jika positif—ini kerap diaplikasikan dalam perilaku organisasi atau manajemen sumber daya manusia. Artinya, pemegang otoritas (dalam konsep Max Weber) memang kerap memegang peran sentral dalam eksternal kontrol terhadap deviant behavior, yang di dalamnya termasuk tindakan kriminal.

Masalah muncul di sini. Dalam menganalisis aksi-aksi kerusuhan suporter dalam dunia sepakbola Indonesia, suara yang kerap keluar selalu bernada pesimistis dan penuh rasa putus asa: “Ah, susah. Orang Indonesia norak.” Psikologi orang kalah (psychology of losers), satu hal yang dideskripsikan Azyumardi Azra dalam artikel opininya di Kompas hari ini (4/9), pun mendekam dalam diri kita. Seolah-olah masalah yang menjangkiti sepakbola

Indonesia

bukan sesuatu yang dapat diatasi. Selain itu, sikap lain yang muncul adalah mentalitas deterministik. Artinya kacau atau tidaknya suporter kita bergantung pada kesadaran tiap individu dalam kerumunan suporter itu sendiri! Ini jelas satu proposisi yang absurd karena kesadaran individu dalam kerumunan jelas tidak akan bisa berfungsi. Dalam satu kerumunan (crowd) individualitas bisa larut. Yang tertinggal hanyalah psikologi, logika, kode moral, dan perilaku kerumunan. Jadi jelas bahwa gagasan menunggu kesadaran bisa mulai disimpan rapi di tong sampah.

Satu hal penting yang mesti dicermati dari masyarakat yang menjadi konteks terjadinya satu kerusuhan adalah logika sosial dan budaya yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Nilai dan norma apa yang berlaku di dalamnya? Kode moral apa yang berlaku di dalamnya? Berbuat rusuh dan kacau dalam pertandingan sepakbola merupakan satu kesalahan jangan-jangan hanya merupakan kode moral kita, bukan mereka. Untuk tahu bagaimana kode moral mereka, akan sangat membantu jika kita mengetahu apa kode moral opinion leader atau patron-patron mereka. Ya, dalam konteks kerusuhan sepakbola Indonesia, kita mesti mengetahui bagaimana kode moral para gubernur, bupati, manajer tim, pemodal, hingga pentolan suporter mereka.

Para suporter, dalam logika strukturasi ala Anthony Giddens, adalah agensi-agensi yang hidup dalam struktur. Dalam mind set Micehele Foucault, kita bisa menganggap mereka sebagai agensi yang hidup dalam habitus. Untuk memahami motives dan drives mereka, jelas kita mesti memahami habitus mereka.

Ambivalensi nilai bukan hal aneh bagi masyarakat Indonesia

, yang tingkat pendidikannya masih terbilang amat rendah secara kuantitas dan terbelakang secara kualitas. Apa yang dianggap baik di sekolah, bisa dianggap menggelikan di masyarakat. Apa yang dianggap satu keharusan dalam undang-undang lalu lintas bisa dianggap sebagai kekonyolan di jalan raya. Lihat saja berapa banyak pengendara motor yang berhenti di garis putih atau tetap bertahan di jalurnya yang macet dan tidak pindah ke jalur yang berlawanan arah. Satu contoh lain adalah logika berpikir “budaya asik” yang muncul di Indonesia–sebagai implementasi dan dampak relativisme moral yang amat dikhawatirkan Paus Benediktus–sejak 1970-an. Jika diamati secara serius, sosok-sosok yang proses sosialisasi amat maksimal–sehingga bisa disebut gaul–amat permisif dan terbuka pada deviasi-deviasi perilaku. Mereka kerap menjadi agen-agen–dalam logika Giddens–yang mempengaruhi struktur untuk menerima deviant behavior. Kenapa? Karena habitus mereka mensyaratkan demikian. Radikalisme bukanlah satu hal yang sangat “gaul” dan dapat mengganggu penerimaan kelompok terhadap diri mereka. Bahkan prinsip dan identias nyata dapat mereka anggap tidak perlu. Dalam budaya “gaul”, satu hal yang sangat penting adalah karakter “dapat diterima semua kelompok yang memiliki kode moral berbeda-beda”. Untuk dapat diterima di mana-mana seperti itu, identitas kode moral dan prinsip menjadi sesuatu yang bisa ditabukan. Agensi-agensi seperti ini masuk ke dalam kelompok dan larut dalam dalam kode moral kelompok tersebut. Jika kemudian mereka pindah kelompok, kode moral mereka pun akan berubah. Itu yang terjadi pada banyak individu dalam kelompok suporter Indonesia. Situasi akan semakin parah jika satu kelompok suporter dihuni oleh mayoritas individu yang nilai dan norma koralitasnya belum terbentuk secara baku, misalnya teenager (13-19 tahun). Namun, itu pun tidak berarti bahwa yang gaek tidak dapat terpengaruh. Yang berusia 30-an atau 40-an pun masih banyak yang tidak (atau belum) memiliki kode moral yang baku sehingga permisif terhadap fenomena apa pun.

Ini adalah buah kegagalan pendidikan sebagai proses sosialisasi terhadap nilai. Orientasi pendidikan yang bergeser menjadi “institusi pemenuhan kebutuhan tenaga kerja” telah menciptakan individu-individu kosong tanpa nilai. Dalam logika sistem pendidikan seperti ini, pragmatisme John Dewey sangat kental membayangi. Abstraksi kehidupan dan internalisasi fenomena menjadi sesuatu yang dianggap merepotkan. Individu dipacu untuk mengejar kemampuan praktis, betapa pun sederhananya kemampuan itu.

Solusi dari semua masalah di atas adalah proses resosialisasi, satu konsep yang mendasari pembentukan institusi-institusi sosial yang penting di masyarakat dalam menanggulangi deviant behavior: penjara! Ya, resosialisasi adalah elemen terpenting dalam institusi yang disebut penjara—meskipun ini dikritik habis-habisan oleh Foucault. Namun, resosialisasi tidak hanya bisa dilakukan di penjara. Media dan ruang publik (konsep public sphere Jurgen Habermas) dapat menjadi sarana resosialisasi yang ampuh. Berbagai strategi komunikasi publik dapat didayagunakan untuk melakukan proses resosialisasi ini, yang diharapkan dapat menggerus nilai-nilai negatif, lalu menggantinya dengan nilai dan norma positif. Ini yang dilakukan di Inggris pada era Maggie Thatcher.

Saat upaya di atas dilakukan, langkah eksternal kontrol juga mesti tetap berjalan. Peran polisi sebagai alat hukum dan PSSI sebagai regulator mesti berjalan secara poten, tanpa terpengaruh sedikit pun oleh budaya “asik” khas generasi 70-an, 80-an, hingga 90-an dan saat ini. Itu penting dilakukan sebagai shock therapy sekaligus seleksi natural terhadap perilaku. Tanpa punishment dan reward yang strict dan stringent–dua karakter yang perlu dimiliki pemegang otoritas–, deviant behavior akan tetap ada. Apalagi kalau pemegang otoritasnya justru yang melakukan deviance!

Kalau sudah begitu, pilihannya hanya dua: jadi masyarakat “asik” yang superpermisif atau masyarakat deterministik yang ultraputus-asa. Tinggal pilih….

al

Asian Games, Hegemoni, Rasa, dan Volly

September 2nd, 2007 by alsujanto

Asian Games telah usai. Indonesia berhasil mencuri dua emas, tiga perak, dan 15 perunggu, tapi belum berhasil menemukan keberanian sedahsyat Malaysia: menyebut pesta olahraga se-Asia itu dalam bahasa mereka sendiri, yakni Sukan Asia.
Saya sempat bingung saat menemukan kata rowing dalam berita berbahasa Indonesia di laman kantor berita Indonesia. Olah raga apakah ini? Berbedakah dengan mendayung, yang menurut Kamus Inggris-Indonesia Echols-Shadily, yang sangat populer di negeri ini, merupakan padanan dari si rowing tadi? Kalau memang berbeda, disebut apakah olah raga dayung dalam bahasa Inggris? Sayang sekali saya bukan pakar dayung, walau cukup tahu bahwa cabang dayung berbeda dengan kano atau kayak dan bisa dilakukan saat banjir.
Di kesempatan lain, saya menemukan frasa kelas feather dan kelas fly di taekwondo. Apakah makna feather dan fly di sini berbeda dengan bulu dan terbang yang telah lama akrab di telinga pencinta tinju Indonesia? Barangkali feather dan fly di sini bukan berarti bulu dan terbang. Sekali lagi: saya bukan pakar taekwondo, walau cukup tahu Juana Wangsa Putri memang cumil, manis dan menarik, alias cute dalam bahasa Inggris.
  Rasanya tidak begitu aneh kejayaan Indonesia di olah raga redup cenderung gelap. Mungkin karena kita tidak pernah punya cukup kepercayaan diri atau memang karena olah raga tak pernah benar-benar menjadi bagian dari kognisi kita. Ah, masak iya? Rasanya saya terlalu berburuk sangka. Namun, saya tak dapat menahan diri untuk tidak berpikir seperti itu. Bagaimana tidak? Tiap kali membuka lembar berita olah raga di koran, saya disuguhi kata-kata yang rasanya sulit disebut sebagai milik kita, milik Indonesia: single-scull, drawing (artinya jelas beda dengan yang tertera di buku gambar saya saat SMP), four oarscoaxless, four oars without coxwins, try out, best time, athlete’s village, venue, individual time trial,…. Belum cukup? Tambahkan kick off dan grand final. Hmmmm….
Mungkinkah satu saat kata-kata tersebut diindonesiakan? Mungkinkah alih-alih menggunakan versi bahasa Inggris, kita menggunakan versi bahasa Indonesia? Wah, saya tak berani bermimipi seindah itu. Buktinya dalam Daftar Kumulatif Istilah Asing Hasil Sidang Majelis Bahasa Indonesia-Malaysia terbitan Pusat Bahasa pada 1985, ada arena frasa olah raga sebagai padanan dari sport venue. Artinya venue bisa kita ganti dengan arena, bukan? Betul, tapi ternyata nasib arena sama–walau tidak lebih tragis dari–dengan sepak mula (padanan kick-off), yang menepi karena satu alasan yang kerap saya dengar: tidak enak.
Zona kenyamanan yang penuh ”bunyi-bunyi enak” itu yang menjadi surga bagi Asian Games, SEA Games, crossing, dan upper cut. Padahal tendangan penjuru, gelandang, bek, dan palang bertingkat kok ternyata enak ya? Mungkin karena sudah lama? Berarti kita alergi dengan kata bahasa Indonesia yang baru? Baru berarti tidak biasa, tidak biasa berarti tidak enak. Begitu?
Kalau benar begitu, berarti kata-kata bahasa Inggris itu tumbuh subur karena kita suka “rasanya”? Atau ada sebab lain, misalnya kita tidak sadar bahwa hegemoni bahasa tengah berlangsung? Hegemoni bahasa? Wah, itu kan Donaldo Macedo yang bilang. Profesor pendidikan di Universitas Massachusetts ini juga bilang bahwa hegemoni bahasa Inggris secara jelas mengambarkan bagaimana ideologi neoliberal globalisasi mengembangkan kebijakan bahasa yang mendominasi. Di Eropa dan AS, kebijakan ini mengarah pada diskriminasi linguistik dan budaya. Di wilayah lain di dunia, kebijakan ini bertujuan untuk menyingkirkan penggunaan dan partisipasi lebih besar bahasa-bahasa lain dalam perdagangan dunia dan organisasi-organisasi internasional.
Ah, masak sebegitu jauhnya sih? Ini kan “cuma” masalah bahasa ya? Kalaupun ternyata ada hegemoni, perlawanan toh tetap ada dari bahasa-bahasa lain. Barry James dalam artikelnya di Herald Tribune, “Online, and Off, English’s Hegemony Is Challenged Globally”, menyatakan bahwa memang bahasa Inggris merupakan bahasa perdagangan dan ilmu pengetahuan internasional, tapi situasi itu sekarang mulai berubah dan perubahannya terjadi amat cepat. Sebagai contoh, kini semakin banyak bahasa yang mengambil alih wilayah internet. Bahasa Jerman, Rusia, dan Spanyol (selain Perancis, bahasa yang sering dianggap paling giat melindungi diri dari invasi bahasa lain) mulai merebak di internet. Kita jadi tidak perlu khawatir akan terus dihegemoni bahasa Inggris, bukan?
Lalu bagaimana posisi bahasa Indonesia? Wah, jangan-jangan nasibnya akan seperti Nusantara kita dulu: jatuh dari tangan Portugis, ke genggaman Inggris, lalu ke cengkeraman Belanda, hingga ke bawah kaki Jepang. Ah, kok saya jadi berpikir terlalu jauh dan traumatis seperti itu ya? Ini kan, sekali lagi, “cuma” masalah bahasa, tidak mempengaruhi isi kas dan kocek toh? Tidak berhubungan dengan duit.
Alamak, kini saya ingat kenapa saya mesti berpikir sejauh itu: Gramsci bilang bahwa biasanya kelompok yang dihegemoni tidak sadar bahwa mereka dihegemoni. Segalanya terlihat wajar.
Walah, sudahlah. Mari kita lanjutkan saja menikmati Sukan Asia, Pesta Olahraga Asia, walaupun di Qatar sana kontingen Indonesia masih dihegemoni kontingen negara lain. Paling tidak KONI kita kan tidak dihegemoni bahasa Inggris. Buktinya, yang tertulis di situs milik organisasi ini bukan olahraga “volley”, melainkan “volly”. Lho?
***

Achmad L.

Sepakbola Industri?

September 2nd, 2007 by alsujanto

“Sepakbola modern telah menjadi industri.” Diktum ini bergaung di tiap ruang yang dipenuhi berbagai diskusi sepakbola, tapi elaborasi maknanya kerap simpang siur dan cenderung buram.

Setelah Perang Dunia II, dengan bantuan melimpah dari pemerintah AS, lahirlah satu generasi baru ilmuwan politik, ekonomi, dan para ahli sosiologi, psikologi, antropologi, serta ahli kependudukan. Mereka semua menghasilkan karya-karya tentang negara-negara Dunia Ketiga. Apa tujuannya? Cuma satu: menyajikan model pembanguan bagi negara-negara Dunia Ketiga–negara-negara di Asia dan Afrika yang pada era itu banyak muncul karena baru meraih kemerdekaan.

Deretan nama seperti Daniel Lerner, Marion Levy, Neil Smelser, Samuel Eisenstadt, dan Gabriel Almond memunculkan teori modernisasi, panduan bagi Dunia Ketiga untuk menjadi negara modern. Semodern apa? Semodern Amerika dan Eropa tentu.

Jelas terlihat bahwa Amerika dan negara-negara Eropa menyajikan diri sebagai model yang wajib ditiru negara-negara periferal yang ingin maju. Jika itu dilakukan negara-negara Dunia Ketiga, tentu akan terjadi homogenisasi. Artinya segala hal dalam negara-negara Dunia Ketiga akan serupa dengan apa yang ada di Amerika dan Eropa. Bukan hanya struktur politik, ekonomi, dan sosial, tapi juga makanan yang disantap dan pakaian yang dikenakan. Beberapa pengkritik teori modernisasi menyatakan bahwa proses modernisasi dalam teori itu tidak lebih dari proses ”amerikaisasi” dan ”eropaisasi”.

Ada kritik lain terhadap teori modernisasi. Untuk menjadi modern secara ekonomi, diperlukan sumber daya. Salah satu jalan mendapatkan sumber daya adalah penanaman modal asing. Pada titik ini, para pengkritik teori modernisasi menjatuhkan vonis bahwa teori itu diciptakan bagi kepentingan negara-negara maju di Eropa dan Amerika. Kenapa? Karena masuknya modal asing pada akhirnya akan membuat negara-negara ketiga sangat bergantung pada Amerika dan negara-negara maju lain di Eropa. Pernyataan dan kritik ini pun tertuang dalam teori dependensi.

Teori ketergantungan atau dependensi ini fokus pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan negara-negara Dunia Ketiga. Artinya teori ini merepresentasikan suara negara-negara pinggiran untuk menentang hegemoni politik, ekonomi, budaya, dan intelektual darinegara maju. Teori ini mengungkapkan bagaimana dependensi negara Dunia Ketiga akan tercipta akibat adanya ketergantungan teknologi industri pada negara maju. Fluktuasi neraca pembayaran internasional juga akan sangat memengaruhi. Di sisi lain, negara maju kerap meraup keuntungan besar dari negara pinggiran dalam wujud biaya transportasi, pembayaran royalti, biaya bantuan teknis. Secara tegas, Theotonio Dos Santos dalam The Structure of Dependence menyatakan bahwa modal yang keluar dari negara pinggiran akan selalu lebih besar dari modal yang masuk.

Kaitannya dengan Sepakbola?

Apakah kaitan semua kajian akademis dalam Perubahan Sosial dan Pembangunan, yang disusun Suwarsono dan Alvin Y. So, itu dengan sepakbola? Jika kita melihat sepakbola Indonesia saat ini, ada keriuhan yang aromanya tidak lain merupakan upaya pencarian model pengembangan untuk mencapai kemajuan.

Banyak suara yang berupaya menggiring opini bahwa sepakbola Nusantara mesti menjadi industri dan model yang selalu diusung adalah sepakbola Eropa–untunglah Amerika bukan negara yang sepakbolanya digdaya. Belakangan ini, UEFA Champions League dan English Premier League kerap menjadi fokus kekaguman, apalagi jika diskusi tergelar di sekitar masalah jumlah uang yang diputar. Mmm, liur terasa siap tercurah. Namun, begitu dalamnya kita tenggelam dalam keterpukauan akibat kilau dua liga Benua Biru itu hingga kita tak pernah bertanya apakah formulasi sepakbola industri memang merupakan sarana yang tepat bagi kita untuk mendatangkan kemajuan?

Seperti kita tahu bersama, teori modernisasi tidak memajukan sebagian besar bangsa Asia dan Afrika. Ada kecurigaan bahwa Amerika dan Eropa cuma ingin mengakali kita di negara pinggiran. Mahathir Mohammad bahkan secara tegas menolak ideologi demokrasi ala Amerika. Malaysia mesti memformulasikan demokrasinya sendiri. Itu yang ia tegaskan saat menjadi PM.

Belakangan bahkan kecurigaan terhadap ”upaya menyajikan model pembangunan” yang dilakukan AS dan Eropa kian memuncak dengan munculnya buku Confessions of an Economic Hitman oleh John Perkins, yang mengaku sebagai salah seorang mantan economic hitman, algojo ekonomi. Perkins bersaksi bahwa Amerika meminjamkan sejumlah besar uang yang tak mungkin terbayar kepada negara-negara miskin. Tujuannya? Mengambil alih kontrol atas perekonomian negara itu. Buku itu menguak fakta bahwa banyak dari negara Dunia Ketiga kerap dibenamkan dalam jurang kebangkrutan supaya makin bergantung pada negara maju di Eropa dan Amerika. David C. Korten dalam buku Getting to the 21st Century: Voluntary Action and the Global Agenda menggambarkan bahwa fenomena ini mengulang pola kolonialisme. Jika dulu yang menjadi kekuatan untuk mengontrol adalah militer, kini utang.

Semua fakta di atas layak menjadi alarm buat kita agar lebih seksama dalam menentukan arah dan memilih model yang pas bagi perkembangan sepakbola Indonesia.

Apakah industrialisasi sepakbola serupa EPL pas untuk kita? Hawabannya tentu tidak sesederhana ”ya” dan ”tidak”. Pemahaman menyeluruh soal posisi sepakbola kita dalam konstelasi sepakbola dunia jelas dibutuhkan. Selain itu, juga perlu ditahui seberapa besar ketergantungan kita terhadap teknologi sepakbola Eropa dan Amerika, misalnya.

*****

1992. Yugoslavia dijatuhi sanksi oleh UEFA: dicabut dari putaran final Euro. Denmark masuk menggantikan. Di luar dugaan, mereka menjadi yang terbaik dalam pergelaran itu.

2004. Sepasukan ”pemain kurang terkenal” berada dalam satu gerbong berlabel Yunani. Nama-nama Theo Zagorakis, Angelos Charisteas, dan Antonios Nikopolidis tidak sementereng Wayne Rooney, Frank Lampard, atau Seteven Gerrard, para individu yang sepakbola negaranya telah menjadi industri. Namun, kelompok pemain medioker asal Yunani itulah yang jadi juara.

2006. Italia mengentak dunia dengan menjadi yang terbaik di Piala Dunia di Jerman. Walaupun pernah menjadi industri yang gemerlap, sepakbola Italia saat itu tidak dibanjiri uang sebesar EPL. Bahkan goresan luka akibat calciopoli dan gelapnya gambaran nasib pada musim kompetisi berikutnya membayangi perjuangan para Italiano. Mereka berjuang dengan harga diri tergores.

Brasil. Lima kali negara ini merebut Piala Dunia. Negara yang kompetisi domestiknya penuh cacat ini menjadi negara yang paling sering berpesta seusai Piala Dunia. Sepakbola di sana jelas bukan industri. Sebagian besar dari para pemain yang memperkuat Selecao tumbuh dan mengais rezeki di Eropa.

Inggris? Sejak kompetisi domestik mereka menjadi begitu berkilau pada awal dekade 90’-an, prestasi mereka di Euro dan PD kerap menggemaskan: tak pernah sekali pun mencapai final. Tak ada trofi anyar level di ruang kantor FA. Kejayaan Inggris dalam sepuluh tahun terakhir hanya berhenti di kota pelabuhan Liverpool: gelar Piala UEFA 2000-2001 dan Liga Champion 2004-2005.

*****

Segelintir fakta di atas mestinya membuat kita lebih berhati-hati dalam menilai industri sepakbola. Kita di Indonesia jelas harus lebih cermat dalam menentukan model pengembangan sepakbola nasional. Ada bukti-bukti jelas bahwa menjelma menjadi sepakbola industri bukan solusi tunggal demi mencapai prestasi gemilang di pentas dunia.

Uang kadang bisa menjadi sangat impoten dalam urusan meraih prestasi. Sifat industri yang serakah justru bisa mengaburkan fokus dalam upaya untuk menjadi yang terbaik. Empat musim Real Madrid mengalami masa tanpa trofi. Jose Mourinho kerap gagal di pentas Eropa bersama Chelsea meski ia merengkuh kesuksesan besar saat bersama Porto, satu klub yang jelas tak segemerlap The Blues.

”Sepakbola modern–lebih tepat jika kita mengatakan sepakbola pascamodern atau sepakbola latemodernity–telah menjadi industri.” Itu mungkin benar, tapi sepertinya saat ini kita tak perlu mengucapkan kalimat tersebut dengan penuh kekaguman lagi.

Bagaimana?

 

oleh Achmad L